Showing posts with label Opinions. Show all posts
Showing posts with label Opinions. Show all posts

Thursday, November 12, 2009

Bookstore (#274)


Banyak toko buku bertebaran di kota-kota besar. Yang cukup dikenal masyarakat diataranya Gramedia atau Gunung Agung. Toko Buku saat ini sudah merupakan one stop shooping store dimana pembeli bisa mencari buku yang dibutuhkan, termasul alat tulis dan keperluan sekolah. Bila ingin shortcut cukup datang ke info center dan tinggal masukan judul atau pengarang yang dicari ke PC dan jreng sekejap muncul yang dicari. Tentu termasuk kalau bukunya ternyata tidak tersedia. Pengunjung toka buku juga bisa membaca sepuasnya dan hanya melihat-lihat tanpa membeli. Kalau pembeli jelas raja maka saat ini pengunjungpun juga menjadi raja. Bukan masalah bagi pengelola toko karena toh target penjualan dapat tercapai, indikasinya bisnis buku semakin ramai saja. Bias jadi pengunjung yang iseng memang tidak berniat membeli dan juga tidak menyiapkan uangnya. Namun bookstore modern tahu dan menyediakan berbagai buku, majalah, ensiklopedia lengkap, pernak-pernik dan bahkan yang tidak anda pikir dan butuhkan tersedia. Akhirnya pengunjung iseng akan datang lain kali dan membeli karena tertarik dengan ragam produk yang ada.

Saat kuliah anda tentu mengenal banyak pasar yang menyediakan buku bekas atau kopian. Beruntung negeri ini masih belum menindak tegas pembajak dan pengkopi buku. Jadi leluasalah buku terbitan asing, bisa dikopi dan dijual seperempat harga aslinya. Harga ini sesuai dengan daya beli mahasiswa, jadi ternyata ini tindakan buruk dengan manfaat yang baik. Buruk bagi pengarang dan penerbit-nya namun berkah bagi pelajar. Right or wrong is my country, jadi wrong country kali ini ternyata bisa membantu mereka lulus sekolah. Jadi berapa banyak sarjana yang terbantu dengan buku kopian alias bajakan ini, rasanya sebagian besar. Di Jakarta, Jogya atau Solo banyak bertebaran pasar atau kios yang menjajakan buku bekas atau bajakan. Pengusaha toko buku-pun tidak bisa berbuat banyak dan menyerahkan pada hokum pasar. Di Senen - Jakarta terdapat toko buku besar Gunung Agung, namun beberapa meter di luarnya justru bertebaran sentra buku bekas/bajakan tadi. Namun semua kebagian rejeki ternyata dan hidup semua, Tuhan Maha Adil. Komoditas lain yang serupa adalah kaos dagadu jogya di malioboro. Antara yang asli dan paten dengan bajakan bercampur di sana, toh para mahasiswa/pemilik dagadu nyantai saja. Pembeli bebas memilih yang asli dengan harga agak mahal atau yang murah meriah di pinggir jalan. Toh uang tidak bohong, yang tidak asli biasanya juga kurang awet. Pilihan berada ditangan pembeli dan pengunjung, jangan lupa tadi mereka adalah raja.

Lain lagi, di sudut kota Semarang, tepatnya di jalan MT Haryono belum lama ini berdiri sebiah bookstore yang lumayan besar. Bookstore ini cukup luas dengan koleksi buku yang lumayan lengkap. Padahal di kota lumpia ini tentu sudah ada Gramedia dan Gunung Agung. Yang menarik dari bookstore bernama Togamas adalah tagline-nya, toko buku diskon. Katanya pembeli sensitive dengan harga – price sensitive dan rela mengesampingkan sedikit kenyamanan. Jadilah harga buku disini memang miring. Yang jadi masalah adalah toko ini tidak dilengkapi dengan AC, tapi hanya kipas angin. Wah bagi yang terbiasa hidup nyaman barangkali akan terganggu dan males berkunjung, namun masih cukup banyak mereka yang tidak ambil pusing dengan hawa dingin dan lebih memilih berhemat. Jadilah toko buku ini luyaman ramai dikunjungi pembeli. Selain diskon di setiap buku, mereka memberikan layanan sampul plastic gratis untuk berapapun buku yang anda beli. Bahkan buku seharga 19 ribupun disampul plastic gratis dan rapi. Standguide-nya juga ramah dan mungkin agak berbeda dengan Gramedia yang sudah besar serta lebih sering dipatroli satpam di gang-gang rak-nya. Beragam buku disajikan dengan lay out menarik. Koleksinya barangkali tidak terpaut jauh dengan Gunung Agung atau Gramedia. Barangkali ini era-nya bookstore dengan mengedepankan service, low cost dan lebih focus kepada kebutuhan pelanggannya. Bagaimanapun masih banyak pembeli yang perlu berhemat dan membutuhkan recehan lima ratus atau seribu perak dari uangnya, inilah yang coba dihargai Togamas. Anda bahkan bisa mendapatkan sebuah buku kesehatan popular dan novel Agatha Cristie dengan hanya Rp. 48 ribu saja, bonus sampul plastic dan senyum manis kasirnya. Sembari keluar toko bias jadi anda sudah melupakan tadi ruangannya ngga ber- AC dan hanya kipas sepoi yang mengusir panasnya udara.
Read More ..

Thursday, September 11, 2008

NOMOR ID

Sesusah apapun hidup di negara ini masih lebih enak ketimbang di Negara lainnya, begitu celetuk seorang teman, pengusaha yang biasa bepergian ke China, Hongkong, Singapura, Amerika maupun Negara lainnya. Bila di sini kita miskin, nganggur namun menghidupi keluarga, asalkan mau dan tidak malu kita masih dapat mencari pekerjaan kasar. Jadi buruh bangunan, penggali kabel, tukang becak atau kuli pasar imbuhnya. Kalau di Negara lainnya yang sistemya sudah baku, perekonomian sudah solid seorang penganggur benar-benar sulit mendapatkan pekerjaan, pendapat teman kita itu.

Pendapat ini tidaklah sendirian, seorang teman lainnya yang lama di Singapura pernah cerita bahwa seorang pengusaha hanya memiliki dua opsi kalau tidak berhasil dan sukses sekali ya bakal hancur dan selesai. Jadi cukup jarang suatu usaha berjalan biasa-biasa saja, mati enggan hidup tak hendak, cerita teman tadi. Sebuah contoh film action - Spiderman menggambarkan seorang hero yang bisa terbang dengan tarikan jaring laba-labanya. Peter sang hero hidup serba susah. Untuk beli mobil seharga empat ribu dollar saja harus ikut turnamen algojo. Hidup di kost-an sederhana yang pembayaran sewanya harus dikejar-kejar pemilik kost. Seorang hero sekalipun hidupnya sederhana dan cenderung miskin. Peter bahkan tidak bisa membantu neneknya yang terusir dari apartemen.

Cerita Peter berbeda dengan Batman dari Gotham yang sejak awal memang sudah kaya raya dan punya perusahaan sendiri. Dalam kiprah heroiknya Batman terbantu dengan harta dan asetnya yang luar biasa.

Pada tataran kehidupan sehari-hari mungkin bisa diambil contoh seorang rekan yang sekarang di Australia. Sang rekan itu tinggal di sana sejak 2001 sehingga sudah tujuh tahun menetap dan mengantongi permanent resident disana. Dia bercerita bahwa segala pemasukan dan pengeluaran akan tercatat oleh system. Bila penghasilannya misalnya sebesar 1000 maka penghasilan ini akan muncul di system dan akan terakses dan terhubung dengan segala pengeluaran. Belanja di minimarket, potong rambut di salon maupun makan di restaurant. ID-nya akan selalu muncul pada setiap transaksi. Sehingga pada akhir periode dapat diketahui berapa sisa uangnya. Jadi sistemlah yang menjamin setiap orang di negeri tersebut selalu transparan segala transaksinya.

Kalau orang kita kan banyak tuh penghasilan misalnya 1000 namun pengeluaran bisa 5000 atau 10000. Wah darimana asal jumlah lainnya? Jawabnya ya dari penerimaan tidak resmi yang umumnya bersumber hasil KKN. Kan perilaku korupsi di negeri ini salah satunya dengan sedapat mungkin tidak meninggalkan jejak dan bukti. Jadi transaksinya tidak tercatat dan dilakukan tanpa meninggalkan bukti layaknya transaksi normal. Contohnya ada penyuapan dengan jumlah milyaran-pun dilakukan secara tunai sehingga kebayang berapa kopor tuh jumlah duitnya.

Itulah kenapa rekan pertama yang biasa bisnis antar negara tadi bilang, sesulit apapun kehidupan kita, masih banyak opsi, alternative lain untuk hidup. Ini barangkali sudut pandang seorang pengusaha, bisnisman dari sudut dia. Apakah hal ini benar, banyak contoh lain yakni orang kita yang sebenarnya bisa dan mampu untuk tinggal di negara lain namun tetap memilih tinggal disini. Di negeri nan malang ini segalanya masihlah tetap menarik,semisal berbagai urusan yang bisa diselesaikan dengan uang. Para koruptor pun bisa aman bertahun-tahun karena konon pengadilanpun akan bisa diselesaikan dengan uang. Money might buy everything including the law.

Satu hal yang sering menimbulkan penasaran adalah kenapa negeri ini tidak mulai membangun suatu basis data yang kuat. Apakah sulit membuat no ID unik dari seluruh warga Negara. Bisa dimulai dari kelahiran seorang bayi otomatis dibuatkan satu ID unik dan baku yang disimpan di database kelurahan atau kabupaten. Data ini selanjutnya digunakan dan diakses manakala bayi itu menimbang badan di posyandu, masuk sekolah dasar, menengah, kuliah, mencari kerja, sebagai pekerja, berkeluarga, membayar pajak sampai meninggal. Termasuk semua catatan dari kepolisian dan aparat hokum juga menggunakan ID ini. Sehingga satu ID dari lahir sampai meninggal akan terus digunakan. Dengan data ini pula semua record dari setiap warga negara tercatat secara lengkap.

Pada film Die Hard 4 digambarkan bagaimana perhitungan pensiun seorang anggota polisi sudah tercantum pada data base meskipun polisinya bahkan belum pension. Saking canggihnya bahkan untuk pengoperasian air, listrik, lampu jalan semuanya dijalankan secara system.

Dengan mulai membangun suatu system yang kuat maka dasar administrasi sudah siap berperan dalam setiap proses kehidupan setiap orang dari warga negara. Administrasi ini selanjutnya yang akan turut mengontrol dan mengevaluasi berbagai aspek kehidupan setiap orang. Pendataan, control social, kehidupan ekonomi, penegakan hukum dan semua sisi lainnya selanjutnya akan bisa dilakukan secara detailed dan efektif.

Sebagai missal bila seseorang korupsi bisa ditelusuri dari semua transaksi yang dilakukan. Termasuk besarnya penerimaan dan pengeluaran yang dilakukan, serta ketidaksesuain bila yang bersangkutan melakukan penerimaan tidak resmi.
Read More ..

Tuesday, September 02, 2008

Bila Niat Bisa

SPBU itu terletak di mulut kota Tegal dari arah Pemalang. SPBU ini hanyalah satu dari ratusan pengisian bahan bakar yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebelumnya pemasaran minyak masih dikuasai dan dimonopoli oleh pertamina, sehingga di negeri ini hanya dikenal yang namanya SPBU pertamina. Tahukah anda kepanjangan dari SPBU ? barangkali tidak semua orang tahu meskipun setiap hari melihat dan mendengar. Kepanjangannya adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Pertaminalah dari awal merdeka hingga kini yang mengelola distribsui bahan bakar nasional. Investor yang hendak melakukan bisnis distribusi minyak ini tentunya harus bekerja sama dengan pertamina. Kali ini bukan pertamina atau investornya sebagai bahasan namun pengin mengulas sebuah SPBU yang pelayannya sedemikian bagus. SPBU Tegal ini konon mengantongi rekor Muri sebagai SPBU terbersih dan salah satu yang terluas.

Sorotan yang ingin diarahkan adalah selain sentar oengisian BBM dengan literan tepat terutama pada pelayanan yang diberikan bagi pelanggan. Sudah jamak pada era sebelumnya banyak SPBU dengan meteran kuda atau literan yang dimainkan. Boro-boro pelanggan dilayani dengan maksimal malah ini diporotin dengan meteran kuda. SPBU yang satu ini sungguh membuat banyak orang merasa puas. Ternyata bila diniatkan pelayanan bisa dimaksimalkan dan akhirnya menjadi rebutan dan buah bibir pelanggan. Tidak percaya silakan satu waktu bila melewati jalur pantura dan dimulut kota Tegal dari arah Pemalang arahkan kendaraan anda mampir. Tempat parkir yang cukup luas dan menampung puluhan kendaraan siap menyambut. Parkirnya gratis, rapi dan dimonitor CCTV.

Turun kendaraan anda dapat langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil ataupun mandi. Semua sudut bersih dan kering karena kipas angin besar berputar diatasnya. Toilet dan kamar mandi selalu dijaga kebersihannya dan hamper tidak pernah ditemukan kondisi yang jorok dan kotor lazimnya fasilitas umum. Anda akan bebas buang air kecil, mandi dengan air melimpah dan tiap sudut yang bersih sekali. Hebatnya tidak ada penjaga yang mengharuskan anda bayar meski ada kotak dengan tulisan mandi bayar dua ribu dan buang air cukup seribu.

Bagi yang beragama muslim disediakan sarana ibadah ber-AC yang sangat nyaman. AC-nya selalu disetel suhu terdingin sehingga dalam ruangan selalu dingin menambah khusyuknya ibadah. Bila anda kebetulan bercelana pendek atau istri lupa bawa mukena sudah tersedia sarung dan mukena yang bersih. Kursi dan meja santai bertebaran dimana-mana. Sebuah ruangan relaksasi disediakan bila kaki anda capek dan ingin dipijit yang tentunya ada biayanya meski tidaklah terlalu mahal.

Akhirnya anda dapat menyambangi kantin yang lumayan lengkap, harga terjangkau dan meja makan yang relative nyaman, karena lagi-lagi ber-AC.

Paparan ini bukanlah promosi namun lebih sebagai contoh bahwa bila niat dan komitmen dikedepankan maka fasilitas umum yang nyaman, bersih, rapi, modern bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Siapapun termasuk pemerintah dapat mengambil contoh dan pelajaran dari pengelolaan SPBU ini bahwa sebuah layanan publik lainnya dengan performa tinggi dapat ditawarkan dan diadakan. Hanya tergantung niat dan komitmen.
Read More ..

Friday, June 06, 2008

BBM

Kenaikan BBM lagi dan masyarakat semakin berat menanggung beban hidup. Pengangguran semakin banyak dan sulit mencari pekerjaan dan penghidupan. Berita bunuh diri anggota masyarakat karena kemiskinan sudah merupakan berita biasa di media. Ibu yang tega membunuh anaknya dan kemudian membunuh dirinya disebabkan himpitan ekonomi yang makin sesak. Ibarat hilang pegangan manakala Pemerintah dengan tega menaikkan harga bbm dengan argumen sakti untuk mengurangi subsidi. Harga minyak dunia melambung tinggi dan mendekati 200 dollar per baler adalah salah satu biang utama. Sementara harga bbm dipatok 95 dollar di anggaran pemerintah. Selisihnya menjadi beban subsidi pemerintah. Tidak kuyrang dari berbagai pakar mengatakan bahwa pemerintah masih punya opsi lainnya ketimbang sekedar menaikkan bbm. Lha kalau setiap kekurangan anggaran pemerintah selalu rakyat yang menanggung lantas gunanya pemerintah untuk apa.

Pakar energi mengatakan dengan adanya kenaikan harga minyak dunia mestinya kita mendapat berkah tambahan uang karena kita penghasil minyak. Semisal kebutuhan kita adalah 1,5 juta barrel maka yang dapat kita produksi hanya 900 ribu barrel. Dus kita harus import 650 ribu barrel. Import inilah yang menyedot anggaran pemerintah. Kenapa tidak ditingkatkan produksinya, karena belum mampu. Dan kenapa belum mampu sementara sudah merdeka puluhan tahun, ya karena belum mampu. Ktidakmampuan inilah bentuk dari kinerja Pertamina yang sudah puluhan tahun mengelola produksi minyak negara. PLN juga perlu dilihat manakala sumber listriknya masih menyedot minyak sebagai input-nya. Banyak pakar mengatakan PLN harus meminimalkan penggunaan minyak dan menggantinya dengan gas alam, batubara atau energi lainnya seperti air dan matahari yang melimpah.

Yang mampu menambang minyak adalah perusahaan minyak dunia semacam Exxon, Caltex, Conoco dan sebagainya. Masak sih kita ngga mampu meningkatkan produksi minyak sementara kandungan minyak-nya memang ada di perut bumi. Konon pertamina bukanlah penambang minyak terbesar namun hanyalah nomor empat atau lima di bawah penambang minyak asing. Sementara kandungan minyak milik negeri ini setiap hari8nya disedot oleh penambang minyak asing dan berapa yang disetor ke negara nampaknya kurang membantu. Buktinya kita tidak kuat menanggung subsidi.

Hitungan pakar ekonomi Kweek Kian Gee mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu menaikkan harga minyak karena subsidi yang digembar gembor hanyalah hitungan angka di anggaran. Subsidi itu hanyalah abstrak dan gambaran belaka. Masih ada jalan lain ketimbang menaikan harga minyak.

Mahasiswa yang masih jernih pemikirannya mengusulkan agar kita melakukan moratorium hutang yang cicilannya menyedot sepertiga anggaran negara. Sementara seruan banyak kalangan adalah gerakan efisiensi dari birokrat pemerintah dan BUMN-nya termasuk Pertamina dan PLN.

Ada juga yang menyebut adanya mafia minyak yang sudah bertahun tahun menneggak nikmatnya jaringan distribusi minyak. Pemerintah dihimbau untuk segera menertibkan geng mafia ini yang membebani distribusi dan produksi minyak. Ada juga yang menuduh kenaikan minyak adalah pesan sponsor dan kepentingan investor minyak asing.

Apapun itu yang jelas minyak harus segera dikelola oleh negara entah dengan melakukan perundingan bagi hasil dengan investor asing termasuk nasionalisasi minyak. Saat ini dibutuhkan komitmen pemerintah untuk membela penderitaan dan beban rakyat yang semakin berat melalui pengelolaan minyak oleh bangsa sendiri sebagaimana amanat presiden pertama Soekarno!!
Read More ..

Tuesday, April 22, 2008

Doin’ Nothing

Pernahkah anda memperhatikan keadaan sekitar anda. Gampangnya keadaan dari rumah sampai kantor anda. Pernahkah anda memperhatikan dua atau lima tahun terakhir. Bila anda katakanlah dari rumah ke kantor pada tahun 2003 apa yang anda ingat. Jalanan macet dan semrawut. Tranportasi buruk, armada bus, kopaja, angkot juga saling serobot. Pernahkah anda merenungkan keadaan itu sekarang. Selain kesemrawutan dan buruknya armada transport sekarang ditambah rusaknya jalan dan merajalelanya kapling jalan atas nama busway. Jalan yang hanya tiga atau bahkan dua lajur-pun dikapling buat busway. Konon busway ini mengadopsi kesuksesan serupa di Bogotta. Namun sebuah sumber menjelaskan keberhasilan busway di Bogotta karena salah satunya kondisi jalan di sana begitu lebar, sampai enma belas lajur, jadi kalaupun diambil satu kapling buat busway tidaklah bermasalah. Berbeda dengan kita yang semua menyadari busway bukanlah solusi mengatasi kemacetan akut, namun tetep dipaksakan. Di Koran orang pinter bilang solusinya adalah menambah ruas jalan, mengatur tegas perilaku pengendara dan membangun mass rapid transport- MRT. Istilah MRT biasanya mengacu entah itu kereta bawah tanah/subway atau monorail di atas jalan. Artinya moda ini tidak mengganggu jalan yang sudah ada. Ada juga semacam kereta-traim yang rel-nya di tengah jalan dan masih bisa dilewati kendaraan lain. Lha kalau busway kita ini caranya mbeton jalan je,,dan banyak motor terjengkang saat menyeberang beton pembatas. Siapakah busway itu yak ok begitu kuasa dan melebihi kepentingan rakyat sekalipun.

Itulah pembangunan fisik dan prasarana yang nampak tidak berubah dan yang ada justru makain merana. Kita seolah tidak berbuat sesuatu kecuali saling berlomba, cakar mencakar, sodok menyodok sehari-hari mencari nafkah. Beban ibuko Negara ini semakin berat harus menanggung dua puluh juta rakyat yang setiap hari berlomba mencari nafkah karena pekerjaan yang sulit, kemakmuran hanya mimpi dan banyak yang bunuh diri karena lapar dan malu.

Barangkali dua puluh tahun silam bilapun keadaan masyarakat tidaklah makmur namun sumber daya alam masih banyak. Lha sekarang, yang bernama hutan saja setiap hari konon hilang sebanyak enam lapangan bola atau 360000 meter persegi, gila ya. Kita adalah perusak hutan nomor wahid di dunia ini. Tidak ada nilai tambah dan inovasi yang kita lakukan kecuali secara tamak menebang dan menjual gelondongan kayu hutan untu segera menjadi uang dan penopang konglomerasi mereka yang memiliki hak pengelolaan hutan. Lha ini hutan milik rakyat dan anak cucu kok dikapling dan dikelola seenaknya, gabungan antara penguasa dan pengusaha, enak yaa. Ntar kalau sudah negeri ini hancur, carut marut dan rakyat marah karena perut lapar, mereka tinggal lari tunggang langgang ke china, singapura atau Malaysia. Hmm nggak ada rasa kebangsaan sedikit pun yaa. Lha hutan sendiri saja dirampok untuk kepentingan golongan dan Pribadi emang mana punya rasa kebangsaan . Sangat-sangat minus.

Pajak yang dibayarkan pada kemana yaa. Konon bayarkan pajaknya dan awasai penggunaannya. Gimana caranya, kalau bayar jelas memang kata saktinya adalah kewajiban rakyat, tidak bayar pajak artinya nggak patuh hokum. Lha ngawasi penggunananya gimana caranya, gimana salurannya, gimana aksesnya. Coba hitung di satu kabupaten saja ada berapa ratus ribu roda empat dan berapa juta roda dua. Pernah dihitung secara mudah sebuah daerah memiliki 500 ribu kendaraan mobil dan dua juta roda dua. Dengan pajak mudahnya dua ratus ribu untuk motort dan sejuta untuk mobil maka sudah akan terkumpul 900 milyar rupiah per tahun. Ini hitungan mudah lho. Dan daerah tadi hanya menganggarkan di bawah 10 milayr untuk perbaikan jalan. Ya pantaslah kalau 70% jalan menjadi makin rusak, berlobang dan bila hujan mirip bendungan menggenang. Hanya 10 milyar saja dan tidak jelas berapa yang bener untuk menambal jalan dan berapa lagi yang dikorupsi. Yang 890 milyar itu kemana yaa, apa hilang ditelan bumi. Coba hitunglah secara sederhana pendapatan pajak hanya dari kendaraan bermotor. Belum dari PBB dari PPN dan seterusnya, semuanya dipajakin namun nggak jelas keman perginya.

Tahun 1980-an masih terlihat pembangunan jalan, pembangun sekolah, kantor, pasar, pertokoan maupun fasilitas umum lainnya. Nampak alamiah dan ada Harapan manakala ada pembangunan fisik bagi masyarakat luas. Lha sekarang pembangunan apa yang dilakukan ya. Itu monas sudah ada sejak Soekarno, Gelora Senayan juga, Semanggi juga. Jadi apa yang dibangun, oh paling hanya mall dan perumahan yang semuanya tidak melalui amdal yang layak sehingga berdampak makin memacetkan jalan dan menambah banjir manakala hujan karena resapan tanah berubah fungsi.

Tidak ada Harapan apaun saat ini. Hingar bingar pilkada, pilpres dan sebagainya hanyalah pesta sekelompok kecil orang yang rebutan jabatan belaka. Manakala menjadi bupati, gubernur atau presiden tindakannya sama saja dan tidak ada yang membangun untuk rakyat. Makin banyak rakyat golput dan tidak melihat manfaat bagi mereka artinya pilkada pilpres ini itu. Ketimbang nyoblos mending waktunya buat narik becak atau nguli untuk makan hari itu. Terlampau banyak rakyat lapar dan pusing sekedar memastikan hari ini bisa makan.

Tiga tahun lagai jalanan bakal tidak bergerak karena memang jalan banyak rusak dan makin semrawut. Jangan salahkan pertambahan mobil karena itu terjadi dimanapun. Jangan mengkambinghitamkan sebagian rakyat makin banyak beli mobil hingga jalan ngga bisa nampung, namun coba Tanya pada perencana jalana, pengelola jalan. Dan bagaimana pekerjaan mereka lima atau sepuluh tahun lalu. Tidakkah mereka mempersiapkan dan mengantisipasi sedemikian jauh-jauh hari dan membangun infrastruktur. Kita hanyalah menyerap 400 ribu setahun mobil dan 5 juta motor. Sementara Negara lain ada yang sejuta, lima juta atau bahkan lima belas juta per tahunnya. Jadi bandingkanlah juga dengan Negara lainnya. Jangan kuper kumpret dan selalu menyalahkan hal lain manakala pemerintah dan pengelola negeri ini yang memang salah. Tidak beces mengantisipasi dan membangun. Itulah hakekat adanya sebuah Negara, yakni membangun agar rakyatnya sejahtera.

Lihatlah sekitar, Malaysia, singapura, Taiwan, korea, china, Thailand dan bahkan Vietnam. Semuanya maju dan terjadi pembangunan besar-besaran. Negara itu sudah mulai memetik hasilnya. Jalanan lebar dan mulus, jalan tolo banyak sekali. Prasarna melimpah dan rakyatnay bias bekerja tenanag karena memang banyak lapangan kerja dan investor masuk. Berbanding 900 derajat dengan kita. Makin suram, rakyat lapar, investor tidak mau masuk, pejabat rebutan jabatan dan pilkada ini itu dan puncaknya adalah rusaknya moral, amburadulnya pengelola Negara, menumpuknya hutang, kacaunya birokrasi, habisnya hutan, tambang dan minyak kita tanpa bekas sedikitpun !!
Read More ..

Monday, February 25, 2008

Right To Live

Garangan itu dengan kaget menyeberang jalan raya. Sebuah kendaraan yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi terkesiap dan kaget ada makhluk warna emas sebesar kucing namun agak pendek dan panjang lari menyeberang. Untunglah kendaraan sempat sedikit ngerem dan selamatlah makhluk itu.

Pada saat lainnya di televisi sering disiarkan pesta kuliner. Dengan bangga ditayangkan alangkah nikmatnya mengkonsumsi berbagai makanan termasuk hewan aneh-aneh. Ada kelelawar, ular, cicak, belalang dan makhluk garangan tadi. Rupanya kita sudah kehabisan sumber makanan pokok kita dan perlu memburu berbagai makhluk tadi.

Garangan yang lewat tadi bisa jadi makhluk yang bertahun-tahun tidak ditemui. Bila mereka tinggal di daerah barangkali masih bisa bertemu dan melihatnya. Namun di perkotaan, sungguh sangat jarang kecuali barangkali di kebun binatang.

Manusia memang makhluk yang paling beradab sehingga begitu kreatif da terus mencari berbagai makanan yang menantang. Konon berbagai binatang tadi diciptakan dengan peran guna turut menjaga keseimbangan alam. Bagaimana kalau banyak belalang diburu dan dibakar atau disate hanya untuk memenuhi semangat kuliner tadi. Bagaimana pula kelelawar yag hidup di gua-gua di pantai diburu sekedar untuk memuaskan tantangan makanan yang unik misalnya.

Garangan yang menyeberang dengan panic tadi berasal dari area perumahan. Rupanya dia berkeliaran di perumahan mencari makanan di got atau selokan. Sementara dia harus menyeberang ke daerah yang banyak pepohonan kembali ke sarangnya. Alangkah kasihan dia mencari makan untuk hidup sementara keselamatannya begitu terancam. Selamat dari roda kendaraan belumlah menjamin aman hidupnya, manakala ketahuan orang sudah pasti bakal diburu dan menjadi santapan.

Setiap hari berapa banyak binatang yang mati mengenaskan di jalanan karena dilindas roda kendaraan. Binatang yang kebanyakan orang haram memakannya seperti kucingpun tidak lepas dari ancaman tangan manusia. Binatang rumahan ini sering menjadi bulan-bulanan manusia ketika berkeliaran. Begitu berat perjuangan kucing bertahan hidup dengan mengais tempat sampah, mencari sepotong sisa makanan manakala mulai berkurangnya tikus rumah. Sudah jarang ditemukan seekor kucing memangsa tikus karena tingkah polah kucing di genting akan mengganggu manusia. Begitu manusia tergganggu tidak jelas apa yang akan menimpa sang kucing itu. Entah bakal dilempar atau disambit kayu atas kelancangannya berani menyentuh rumah manusia meski hanya untuk mencari makan dan bertahan hidup.

Tidak ada salahnya hak hidup atas berbagai binatang tersebut patut kita renungkan. Seberapa besarkah mereka menjadi gangguan kita sehingga kita harus menyakiti dan bahkan memakannya. Bila makanan lainnya tidak ada tentu saja berbagai binatang bisa dikonsumsi. Namun saat ini belumlah sulit mencari makanan yang layak dan wajar dimakan.
Read More ..

Thursday, September 20, 2007

BORED !!



Berang, sungguh berang setiap kali menghadapi kesemrawutan keadaan. Dengan rekan kantor sering kita menyepakati bahwa hidup di Jabodetabek – kawasan ibukota Negara ini- begitu kita keluar rumah yang terjadi adalah rebutan dan HUKUM RIMBA. Artinya mulai kita keluar rumah dan menginjak jalan yang terjadi selalu rebutan.Kenapa timbul rebutan sungguh banyak keadaan penyebabnya. Mulai dari jalanan yang relative sempit, jumlah kendaraan semakin banyak, perilaku pengendara dan desain serta infrastruktur transportasi kita yang amburadul.

Begitu masuk tol langsung disambut dengan ratusan truk besar yang berjalan lambat dan sebagian mengambil jalur kanan. Sudah klasik dan menjadi pemandangan setiap saat truk berbagai ukuran melaju lambat di tol mulai dari pagi, siang, sore dan malam hari. Kita tidak tahu pasti apakah sebaiknya truk dibiarkan sembarang waktu masa edarnya atau sebaiknya diatur dengan system jam tertentu. Tidak kalah parah adalah antrian pembayaran di pintu tol. Ambil contoh tol Cikampek Jakarta dengan panjang 60 kilometer-an. Dengan debet kendaraan begitu banyak tak terelakan terjadi penumpukan antrian pembayaran. Celakanya cara pembayaran masih berlangsung seperti dulu kala JAMAN MAJAPAHIT yakni tunai dan system kembalian – persis jual beli di pasar. Tidak jarang transaksi tol sebuah truk berlangsung sekian lama sehingga memperlambat antrian. KAPAN YA system membayar tol seperti di Singapura yang cukup dengan sensor dan kendaraan tidak perlu berhenti, MIMPI KALI YE. Usai membayar tol yang gate-nya ada sepuluh atau lebih kendaraan langsung disambut antrian karena jalan menyempit menjadi HANYA 2 lajur. Kebayang tidak dari 10 lajur menjadi 2 lajur dan ini berlangsung SETIAP HARI !! Praktis untuk jarak yang mestinya ditempuh dalam 5 menit sering harus kita jalani 30 sampai 45 menit, kadang LEBIH !!! Diperparah dengan PERILAKU pengendara yang saling serobot dan adu nyali. Meski kita di JALUR YANG BENAR sering harus mengalah karena penyerobot lebih BERANI dan BERNYALI. Jadilah ajang rebutan dan nampak hukum rimba berkuasa di sini. Desain infrastruktur yang tidak disiplin dan hanya membela kepentingan pemilik kapital turut menjadi biang semrawutnya akses transportasi ini. Di jam sibuk SELALU terjadi antrian di Exit tol karena jalan ARTERINYA dipenuhi kendaraan roda dua yang jumlahnya JUTAAN di mbahnyakota ini. Orang tidak mampu beli mobil dan memilih MOTOR karena berbagai kondisi. Daya beli rendah karena tingkat upah rendah bagi mayoritas karyawan. Jadilah keadaan multi dimensi social ekonomi budaya bla bla bla. Tidak jarang pula exit tol langsung disambut perempatan dan lampu merah, LHA IYALAH MACET CET !!
Read More ..

Monday, July 16, 2007

Small Thing,,,

Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Kebiasaan setiap orang akan tentu berbeda. Tidak ada salahnya coba sharing mengenai beberapa hal kecil yang dilakukan setiap hari. Ambil contoh bila kita kadang datang kantor pagi sekali. Saya biasa berangkat jam 05.00 pagi bila ada meeting jam 08.00. Berangkat pagi kita bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat. Ambil contoh kita tidak perlu menghidupkan AC kendaraan, karena hawa pagi segar dan baik buat kita. Memang campur dengan asap kendaraan lainnya, namun tetap kesegaran udara pagi bisa dirasakan. Tanpa AC juga menghemat pemakaian bahan bakar.

Nah bila kita berangkat pagi, selain jarak tempuh yang relative cepat kita bisa dating pagi dan banyak hal bisa kita perbuat. Apa yang bisa kita lakukan di kantor adalah kita bisa belajar, bekerja maupun istirahat. Bila masih ngantuk kita bisa tidur dulu di ruang kita toh pagi jam 06.00 masih sepi dan hangar binger dunia kerja belumlah mulai.

Sebenarnya kita bisa saja turun dan datang ke warung yang kita sukai untuk melakukan sarapan, namun kita bisa saja minta tolong OB membelikan sarapan kita. Usai istirahat, sarapan kita bisa mempersiapkan agenda kerja hari itu dengan cukup waktu dan tanpa tergesa-gesa.

Jangan khawatir bila kita kurang olah-raga. Percayalah anda harus naik turun antar lantai sekian kali setiap harinya. Kalaupun tidak anda bisa menciptakan naik turun lantai sekedar unutk diskusi dengan departemen lainnya barangkali. Nah naik-turun lantai jangan dengan lift, pakailah tangga darurat. Bila setiap hari lewat tangga dijamin anda akan cukup berolah raga. Kebiasaan saya selain lewat tangga juga bilka datang dari luar saya sempatkan naik tangga, dari basement ke lantai 3, hmm lumayan bikin dengkul kita kuat lho. Jangan lupa banyak-banyaklah minum air putih,,,minimal delapan gelas sehari.

Sore atau malam hari ketika kita pulang kerja kembali saya sering tidak menyalakan AC kendaraan. Gunanya adalah tidak semata ngirit bahan baker tapi dalam rangka mengeluarkan keringat kita. Setelah seharian dalam hembusan AC tubuh kita sering kurang segar karena keringat tidak keluar. Bayangkan anda sarapan, ngemil, makan namun tidak mengeluarkan keringat sama sekali. Tadi sudah sedikit kita keluar keringat naik turun tangga, nah ini ditambah di mobil tanpa AC, hmm kayak mandi sauna. Percayalah selain kita tidak mesti bayar biaya sauna, kita akan relative lebih segar bila keringat kita keluar banyak.

Kebiasaan lainnya yang selalu saya lakukan adalah tidur sepuasnya bila hari libur. Saya tidak ambil pusing harus ini dan itu pokoknya begitu hari libur, pagi hari usai sholat saya tidur sepuasnya sampai tubuh segar kembali. Tidak peduli sampai siang hari asal kita masih butuh tidur saya akan tidur sampai segar kembali.

Waktu libur juga waktu memanjakan tubuh dan juga anggota keluarga kita. Bermainlah sepuasnya dengan bayi atau anak anda, atau kucing atau hewan peliaharaan lainnya, nonton DVD sepuasnya atau mengaduk-aduk acara TV kabel. Santai akan membuat tubuh kita rileks kembali.

Nah tiba giliran senin pagi, karena badan sudah segar maka kita siap kembali ngantor jam 05.00 pagi dan mengulang kegiatan yang relative sama. Monoton ? bisa saja dalam beberapa hal, namun bila tubuh kita selalu segar kenapa tidak. Tentu saja anda bisa merangkai kegiatan lainnya seperti jalan ke mall, rekreasi atau ke pantai.
Read More ..

Wednesday, July 04, 2007

Ala Pintu Tol



Hampir setiap hari kita lewat dan membayar tariff tol. Entah sudah berlangsung 10 atau 20 tahun selalu kita melewati dan harus membayar tariff tol. Dipastikan tidak sekalipun kita tidak mmebayar tariff tol bukan. Bila kita tarik perumpamaan bahwa manajemen pembayaran tol begitu focus dan efektif. Maksudnya tidak ada sebuah kendaraanpun yang lolos dari kewajiban membayar tol. Kenapa? Karena jalan tol sudah didesain sedemikian rupa yang mengharuskan pengendara melewati dan membayar di pintu masuk/keluar tol.

Kalau dijabarkan kepada kehidupan luas, apalagi kepada kehidupan bernegara manajemen ala jalan tol dapat saja diterapkan. Bangunlah bangunan fisik atau infrastruktur yang bagus, sebagaimana mulus, lebar dan indahnya pepohonan di pinggir jalan tol. Bahkan belakangan marak menjamur berbagai SPBU yang lengkap dengan tempat rehat,restaurant, café, tempat ibadah dan bahkan bengkel. Pengendara semakin nyaman dan beristirahan bila lelah dan capek. Kembali pada pembangunan infratruktur tadi, hendaknya pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas umum yang nyaman. Dimulai dari sarana transportasi jalan (termasuk perumpamaan tol ini), pemisah jalan bagi pejalan kaki, roda dua, bus dan kendaraan pribadi, sarana angkutan umum yang nyaman, ruang public, taman hijau, trotoar nyaman, singkatnya adalah fasilitas fisik bagi masyarakat harus nyaman. Hal ini perlu dan wajib disediakan oleh pemerintah, karena masyarakat juga wajib membayar pajak disamping pemerintah memiliki wewenang mengelola sumber kekayaan alam yang melimpah. Hasil dari pengelolaasn sumber daya sebagian dikembalikan kepada masyarakat dalama bentuk fasilitas umum, sebagian untuk membiayai operasional pemerintah, untuk ditabung, investasi dan seterusnya. Nah manajemen pintu tol tadi mengatakan bila anda sudah menikmati nyamannya jalan told dan waktu tempuh yang lebih cepat (meskipun sekarang tol macet juga ya), maka anda wajib membayar tariff tol. Ini satu arti dengan bila pemerintah sudah membangun sarana fisik umum yang nyaman dan masyarakat dapat menikmatinya maka penuhilah kewajibannya, seperti ya bayar pajak, partisipasi dalam keamanan, ketertiban dan seterusnya. Sehingga tidak ada lagi masyarakat atau organisasi yang lolos dari kewajiban membayar pajak, lolos dari kewajiban sebagai warga Negara yang baik dan seterusnya. Masalahnya sudah sejauh mana berbagai fasilitas umnum yang disediakan bagi public. Apakah sarana transportasi dan penunjangnya sudah nyaman, ternyata kita semua tahu belaka gambarannya. Baiklah, kita hanya melihat ke depan, bagaimana pemerintah mulai focus dan konkrit membangun. Masak membangun jalan saja dapat direcokin oleh calo atau beberapa warga yang keberatan tanahnya dibeli dengan harga pasar. Melalui calo/warga yang mumpung dan minta harga tanah tinggi, biasanya jalan ditutup dan menjadi terbengkelai bertahun-tahun karena ulah tadi. Nah atasi segera permasalahan ini dan mulailah membangun. Juga tertibkan segala thetek bengek yang merecoki trotoar, jalur kendaraan umum dan jalur kendaraan pribadi. Mulai tertibkan lalu lintas dan mobilisasi masyarakat umum di perkotaan seperti Jakarta atau Surabaya. Kal;au tidak mulai ditertibkan saat ini mau kapan lagi. Lihatlah jalan protocol di Jakarta saat jam berangkat atau pulang, anda akan menghela napas, hmm sangat semrawut dan melelahkan.
Read More ..

Monday, July 02, 2007

Pendidikan,,,,,,



Sujud syukur pantas aku sembahkan kepada sang Pencipta yang melimpahkan Rahmat dan anugerah tiada tara. Setelah melalui berbagai perjuangan nan berat, doa dan harapan maka anak saya berhasil lulus ujian nasional sebuah sekolah menengah. Rasa hati sempat dag dig dug menunggu hasil manakala melihat berbagai ujian tahun sebelumnya banyak yang gagal karena satu pelajaran nilainya jatuh meskipun dua lainnya sangat tinggi.

Fenomena ujian nasional cukup menyorot perhatian kita semua manakala upaya dan energi selama tiga tahun belajar hanya ditentukan oleh ujian tiga hari untuk tiga pelajaran. Sungguh dua keadaan yang cukup ekstrem dan begitu berbeda bahwa kerja keras tiga tahun hanya ditentukan oleh ujian tiga hari. Dampaknya disamping kegembiraan luar biasa bagi yang lulus juga kekecewaan hebat bagi yang tidak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi. Kekecewaan ini apalagi menimpa anak-anak usia sekolah menengah atau usia antara 13 sampai 19 tahun yang justru merupakan periode labil dari pertumbuhan seorang anak. Bahkan ada diantaranya yang nekat melakukan bunuh diri karena begitu besarnya rasa kecewa ini. Pro dan kontra selama ini berlangsung alot dari pihak yang menentang , pihak yang pro maupun mereka yang netral. Dari pihak yang menentang berpendapat kurang lebih sebagaimana di atas ditambah belum seragamnya mutu sekolah dan perangkatnya secara nasional. Pihak penentang juga berpendapat sebaiknya unas hanya untuk mengukur rating suatu sekolah belaka, bukan penentu kelulusan. Bagi yang pro berargumen bahwa unas dibutuhkan guna standarisasi evaluasi pendidikan maupun upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. Yang netral kurang lebih berpendapat diantara kedua kubu tersebut. Terlepas dari berbagai pendapat dan penilaian unas saya mencoba untuk berpikir positip tidak sebatas karena anak saya beruntung dan lulus, namun menghargai upaya pihak pengelola dunia pendidikan atau pemerintah atas terobosan unas tersebut. Anugerah berikutnya bagi keluarga adalah kebetulan anak saya juga diterima di sekolah menengah atas yang cukup baik karena lulusanya banyak yang diterima di universitas negeri. Begitu seriusnya dampak unas bagi siswa maupun orang tua maka hal ini menjadikan sebuah pembelajaran. Sebaiknya sedini mungkin kita sebagai orang tua harus selalu memperhatikan proses pendidikan anak-anak kita. Sejak awal sekolah sebaiknya terus dipantau perkembangannya. Bila nilai hariannya kurang orang tua wajib terlibat dan mencari tahu kenapa nilai kurang dan mencari solusi agar anak memperbaiki cara belajarnya. Demikian nilai ujian dan seterusnya. Diskusi dunia pendidikan memang luas dan tiada habisnya. Konon dunia pendidikan nasional kita terlamapu banyak jenis pelajaran, seolah setiap anak akan disiapkan menjadi sarjana atau doctor misalnya. Padahal dari hasil suatu sumber di Amerika sekalipun mereka yang beruntung bisa kuliah dan menyelesaikan sarjananya hanyalah sekitar 30 atau 40% saja (?). Sementara sisanya barangkali memilih atau terpaksa bekerja. Di Jepang mereka yang berhasil masuk tingkat universitas angkanya juga sekitar 20-an% namun pemerintah Jepang lebih siap mengelola mereka yang tidak kuliah yang berjumlah 80-an %. Konon mereka yang tembus dunia kuliah adalah setelah melewati semacam tes seleksi paling berat. Barangkali yang 20% ini disiapkan bagi bidang yang memang membutuhkan kualifikasi sarjana. Sementara yang tidak kuliah masuk dunia kerja atau kursus. Kita sebaiknya memperhatikan hal tersebut bahwa mereka yang tidak berkesempatan kuliah di kita justru jauh lebih besar lagi. Sehingga kenapa kurikulum sekolah sebaiknya lebih memikirkan mayoritas siswa yang hanya menamatkan sekolah menengah atas dan terjun ke dunia kerja.
Read More ..

Monday, May 14, 2007

Garbage,,,

Pagi tadi saya kebetulan mampir bengkel langganan. Seperti biasa penjaga bengkel, pak Haji namanya sedang memanaskan air. Teh tubruk satu pak Haji teriak-ku sambil mencari tempat duduk. Sementara saya asyik ngobrol dengan seorang mekanik ketika menyadari mak-nyess bau sampah habis terguyur hujan lebat. Baunya khas, ya bau sampah lah, yang jelas sangat tidak sedap. Untunglah tadi sudah sarapan di tempat lain. Teh tubruk hangat tetap saya minum sampai habis, teh aroma sampah hmm. .

Lain waktu sebelumnya bila anda melewati jalan tol, anda akan disuguhi aroma sampah yang baunya menyebar radius sekian kilometer. Diskusi sampah memang jarang orang membicarakannya meskipun ada disegala sudut termasuk depan hidung kita.

Di Bandung pernah kejadian tumpukan sampah menimpa rumah di sekitarnya, saking tingginya tumpukan sampah. Masyarakat juga pernah menumpukkan sampah begitu saja disepanjang jalan umum. Praktis terjadi kehebohan dan gangguan karena demo sampah di jalan-jalan.

Kita tentunya tahu belaka ada suatu tempat pembuangan sampah yang begitu luas dan menggunung. Konon terdapat ratusan pemulung dipembuangan tersebut. Kabar terakhir tempat tadi ditutup sementara pemerintah Jakarta sedang melobi daerah lain untuk dijadikan pembuangan sampahnya. Spontan saja ditolak, lha siapa sih yang rela dan mau tempatnya dipakai untuk pembuangan sampah.

Ya pengelolaan sampah di negeri ini begitu buruk. Sampah dibuang di sembarang tempat mulai dari kebun, sungai, selokan, laut, kolam dan bila perlu halaman tetangga. Pernah adakah semacam grand desain sampah? Nonsense. Kenapa tidak seorangpun memikirkan sampah ini. Kenapa enak saja pemerintah menunjuk atau menentukan tempat anu untuk pembuangan sampah. Pun masyarakat sungguh sering seenaknya membuang sampah bukan pada tempatnya.

Bau sampah hanyalah sedikit contoh dari ekses pengelolaan sampah yang amburadul. Kesehatan lingkungan, banjir, kebersihan dan seterusnya adalah deret dari dampak sampah yang tidak dikelola.

Pernah dengar dulu ada importer yang mengimpor sampah? Hmm masih ada saja manusia semacam itu yaa. Alih-alih mengimpor barang produktif, lha ini sampah diimport,,,

Kalau kita mencontoh pengelolaan sampah negara lainnya - banyak. Bisa disebut Jepang. Jepang memiliki mesin pengolah sampah. Sampah dikelompokkan menurut jenisnya ada plastic, kaleng alumunium, kardus dan bahan lainnya. Umumnya mereka bisa mendaur ulang bahan tadi. Dunia industri didorong membuat karton, kaleng, atau bungkus yang bisa didaur ulang.

Plastik bisa diadur ulang menjadi perkakas dari plastic. Karton, alumunium dan kardus juga bisa. Rumah tangga diharuskan membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Mobil sampah secara teratur mengambil sampah rumah tangga juga industri dan didaur ulang.

Kita harus memikirkan pengelolaan sampah saat ini juga. Bila tidak, lingkungan kita akan semakin dipenuhi sampah. Jangan berpikir aji mumpung masih ada daerah yang dipaksa sebagai tempat pembuangan sampah, atau masih ada sungai/kali, atau ada laut dan seterusnya.
Read More ..

Thursday, March 15, 2007

Doa

Ada setitik rasa haru ketika baru saja saya telepon ke rumah dan anak saya menjelaskan besok jumat di sekolahnya diadakan itikaf bagi siswa kelas 3. Tentunya kita tahu belaka bahwa saat ini baik siswa kelas 6 atau sekolah menengah kelas 3 bersiap menghadapi ujian nasional (unas). Meskipun menjadi bahan perdebatan tahun lalu namun pemerintah memutuskan kebijakan unas ini. Tentunya hal ini sah-sah saja guna standarisasi dunia pendidikan kita. Di sisi lain bagi siswa atau sekolah pada umumnya dalam menghadapi suatu momen menentukan kecuali kerja keras maka permintaan bantuan kepada Yang Di Atas adalah jalan terbaik. Sehingga kenapa anak-anak kita yang bersiap menghadapi unas SMP mengadakan semacam doa bersama guna keberhasilan menghadapi unas.

Rasa haru juga pernah menyentuh manakala perusahaan kita beberapa kali mengadakan semacam doa bersama. Di saat persaingan dunia usaha begitu ketat maka lagi-lagi selain kerja keras, doa yang tulus wajib dilakukan guna mendapat bantuan dan perkenan-NYA.

Dalam kedua kejadian tersebut saya melihat suatu niat baik dan tanpa kepura-puraan, karena praktis tidak ada suatu maksud tersembunyi misalnya. Berbeda dengan berbagai acara dan agenda tobat nasional yang berulang kali disuarakan. Selain memang ada niat tulus dari kegiatan tobat nasional namun tidak urung menyimpan tujuan lain. Katakanlah tujuan politis atau semacam kepura-puraan sikap terhadap masyarakat luas. Buktinya meskipun berbagai tobat nasional diadakan namun tanpa dibarengi suatu sikap moral tulus, benar-benar tobat dan bertekad berbuat baik bagi sesame - nyatanya belum ada hasil konkritnya.

Sejauh ini kita belum tahu persis apakah berbagai doa yang dilakukan baik oleh sekelompok kecil atau berbagai lapisan masyarakat tersebut telah diterima dan mendapat perkenan-NYA. Bahwa doa tidaklah akan berarti tanpa dibarengi sikap dan perbuatan yang selaras dengan isi doa itu sendiri.

Berbagai kejadian maupun bencana yang menimpa kita barangkali bisa menjadikan doa sebagai upaya terakhir memohon perlindungan-NYA. Pun yang paling berat justru adalah lanjutan dari doa tadi yang tidak lain adalah berubahnya sikap dan perbuatan kita. Selama ini barangkali kita terlampau lalai dan katakanlah mendzalimi sesama. Selama ini kita terlampau rakus dan menempuh berbagai cara guna mencapai ambisi dan tujuan kita. Seolah hidup hanyalah saat ini dan kenikmatan haruslah direguk sebanyak yang kita bisa. Tidak heran bila kita menjadi semacam makhluk yang haus materi, haus kekuasaan dan haus segala nafsu kenikmatan dunia. Kita tidak cukup puas dengan apa yang sudah didapat dan selalu melakukan katakanlah penyimpangan di setiap kesempatan.

Ada semacam batas dan pagar yang bisa kita jadikan semacam control manakala ambisi dan kehausan kita menguasai, yakni kewajaran dan menghormati sesame. Konsep wajar, manusiawi dan memikirkan sesame adalah bentuk pengeremen dari laju ambisi tersebut. Kita kembalikan kepada kita masing-masing apakah kita sudah cukup memikirkan sesame. Sehingga jangan sampai doa selalu kita panjatkan namun sebaliknya perbuatan masih bertentangan dengan doa itu sendiri.
Read More ..

Monday, February 12, 2007

Bisnis di Tanah Air

Saya pernah berkesampatan ngobrol dengan seorang Presdir sebuah perusahaan jasa di Jakarta. Ada juga obrolan lain dengan seorang Direktur perusahaan pemegang license produk Safety. Dari kedua perbincangan yang beda waktu sekitar 4 tahun tersebut tersirat pesan bahwa apapun kondisi yang terjadi di tanah air, melakukan bisnis di Negara ini tetap lebih menarik dan relative mudah ketimbang di Negara China, Singapura, Taiwan, Eropa bahkan Amerika Serikat. Demikian kesimpulan ini diungkapkan oleh praktisi bisnis di bidangnya dimana mereka telah mengecap jatuh bangun dalam dunia bisnis.

Banyak hal dikemukakan oleh keduanya bahwa bagaimanapun kondisi tanah air yang beruntun ditimpa bencana maupun kondisi birokrasi nan pelik tidak menyurutkan semangat pebisnis. Ternyata dibalik berbagai hal yang kurang “ramah” pada kondisi bisnis terdapat banyak hal yang cenderung “flexible” dalam menyiasati berbagai urusan bisnis. Barangkali bisa dicontohkan begini, katakanlah memang terdapat praktek korupsi di berbagai sudut. Korupsi tentunya membebani biaya bisnis dan menjadikan bengkaknya biaya produksi misalnya. Namun dengan korupsi misalnya kebiasaan suap dalam bisnis bisa melakukan terobosan. Katakanlah ada pebisnis mengimpor sampah dari China. Dengan proses manipulatif sampah berhasil masuk dan “dijual” di dalam negeri. Dengan suap pula berbagai barang import yang direndahkan nilainya berhasil clearance dan masuk ke gudang importer.

Bahwa kondisi dan suasana birokrasi yang ruwet dan hiruk pikuk tidak semata meruwetkan urusan bisnis namun sekaligus sebagai ajang bermain di air keruh, begitu kira-kira bahasa kasarnya. Kenalan tadi menjelaskan bahwa saat ini apapun bisa dibisniskan di tanah air asal tahu caranya. Tentu saja caranya apalagi kalau bukan cara KKN yang akan bisa meloloskan segala urusan asalkan disediakan kick off money secukupnya.

Belum lama kita dapat mengetahui misalnya di Amerika Serikat yang namanya mengkonsumsi ayam hanyalah sebatas dagingnya saja. Jeroan, kepala, kaki, kulit dan sisa lainnya dianggap waste dan harus dibuang. Demikian ketat aturan dan perlindungan konsumen di sana sehingga pebisnis ayam harus membuang waste tadi. Kalau di kita wah yang tadi namanya waste itu sangat laku dijual. Coba datang ke pasar tradisional dan di sana banyak dijual khusus ceker ayam, kepala, leher dan jeroan ayam. Jadinya di Negara kita mudah kan menjalankan bisnis jual daging ayam.

Contoh lain misalnya di Prancis, konon bila seorang konsumen merasa dirugikan oleh suatu produk dan terbukti benar maka pada hari yang sama produsen yang telah merugikan konsumen tadi harus ditutup, kasarnya seperti itu. Bahwa perlindungan konsumen begitu kuat dan tanpa kompromi mengharuskan dunia bisnis bekerja ekstra keras dan sungguh-sungguh. Berbeda di tempat kita, meskipun di Koran setiap hari puluhan konsumen dirugikan oleh produsen namun apa dampaknya, bisa dipastikan semuanya berjalan biasa saja. Jadi alangkah enaknya berbisnis di tanah air karena ketiadaan perlindungan konsumen yang tegas.

Rasanya masih terlampau banyak segala hal yang berbau abu-abu dan samar sehingga bisa dimanfaatkan dan dipakai berkelit manakala terjadi suatu dispute misalnya.

Sehingga kenapa komentar dan kesimpulan dari dua praktisi yang saya kenal tadi tidak sepenuhnya salah bahwa memang enak melakukan bisnis di tanah air ini. Semua proses bisnis bisa dimanipulasi dan diakali tanpa takut hukuman atau sanksi.
Read More ..

Friday, December 01, 2006

Birokrat

Berapa jumlah pegawai negeri sipil kita? 3 juta orang. Berapa gaji rata-rata? 2 juta kah. Jadi Negara hanya mengeluarkan 6 triliun setiap bulannya untuk menggaji pegawainya. Bagaimana birokrasi kita? Masih lelet kan dan penuh kick off money. Bagaimana kalau gaji rata-rata kita bikin 10 juta per pegawai, apakah 30 triliun per bulan terlalu berat? Bagaimana kalau jumlah pegawai kita pangkas menjadi hanya 2 juta terutama yang umurnya diatas 50 tahun, maka 20 triliun masih berasa beratkah? Ya mungkin, tapi turunkan sanksi berat bagi pegawai yang lalai dan korup. Gimana caranya? Rekrut dan training di setiap pos atau departemen tim audit yang bertanggung jawab langsung ke presiden. Gajilah tim audit yang besar misalkan 20 juta per auditor dan sumpahlah. Mintalah auditor selalu mengaudit semua proses dan laporan kerja dan berikan reward dan punishmen bagi yang berprestasi serta bagi yang lalai.

Barangkali sudah berubah birokrasi kita? Belum tentu. Bagaimana kita tambah lagi CCTV di setiap kantor pemerintahan. Siapa yang terekam menyimpang dijatuhi sanki berat dan seterusnya. Harga CCTV mahal? Relative lah. Bagimana kalau Negara sementara membuat pabrik elektronik CCTV dan jadikan semua kantor pemerintahan bahkan jalan-jalan protocol “under area surveillance” dimana semua dipasang CCTV.

Masih kurang, galakkan acara di TV semacam gerakan moral kejujuran dan kedisiplinan nasional. Bila perlu demi kepentingan nasional mintalah slot waktu guna propaganda pemerintah bahwa sudah saatnya Negara ini berubah dan bangkit.

Pastikan di sekolah dan universitas, gerakan kebangsaan dan nasionalisme makin kuat mengakar. Berikan semua generasi muda dengan himbauan gerakan moral secara netral dan obyektif. Jangan mengulang mendokrin generasi muda dengan mendewakan orang/tokoh atau golongan serta sebalinya menge-cap golongan lain terlarang. Era sudah berubah dan generasi sekarang jauh lebih maju dan terdidik. Percayalah bahwa generasi sekarang tidak memiliki tokoh idola dari pemerintahan. Mereka lebih mengidolakan kartun spoungsbobsquarepants atau tom and jerry.

Setiap jam sekolah atau jam kerja, turunkan polisi ke lapangan dan jalan untuk razia anak yang membolos, pegawai yang dating siang dan seterusnya. Lakukan dengan aturan main yang jelas. Oh ya jangan lupa gaji polisi dan tentara yang jumlah personilnya di bawah 500 ribu dinaikkan setara atau lebih tinggi dari pegawai sipil. Tahukah bahwa gaji polisi di Singapura adalah 30 juta rupiah per bulan.

What’s next. Gaji sudah, jumlah ideal sudah, pengawasan sudah, hokum sudah. Dus tentunya bakal ada perubahan birokrasi kita. Lantas darimana biaya gaji dan perangkat penunjang tersebut berasal. Ini Negara besar man, jangan selalu mengiyakan bahwa Negara kita ini selalu tidak punya uang. Jangan membenarkan bahwa hanya swasta yang megang uang. Harus dikoreksi coy, bahwa Negara dapat bagaimanapun mengelola alokasi anggarannya. Ada pajak, cukai dan pungutan lainnya. Ada import dan ekspor. Ada sumber daya alam melimpah. Jadi urusan biaya gaji 20 atau 30 triliun per bulan bukanlah big deal.

Bila birokrasi kita clean dan efisien, apa dampak yang bakal kita terima. Buanyak lah. Invesatsi bakal menggeliat, arus dana mengalir - inflow, roda ekonomi semakin berputar karena semuanya transparan, efisien dan efektif. Kita hanya perlu cost pada awalnya namun ke depan jangankan jumlah 30 triliun, lima kali lipat-pun kita bisa mengelola.

Lantas apalagi yang dibutuhkan kecuali hanya niat dan kemauan kita semua. Apalagi yang ditunggu. Rombaklah dan benahilah birokrasi kita, beserta jajaran birokratnya dimulai dari sekarang.
Read More ..

Friday, November 10, 2006

Paten

Menurut kamus Oxford Advanced Learner’s patent is an official document giving the holder the sole right to make, use or sell an invention and preventing others from copying. Cukup jelas bahwa paten diartikan memberikan hak bagi pemegang paten untuk membuat, menggunakan atau menjual temuan dan melindunginya terhadap orang lain yang berniat mengkopi. Bila kita mempunyai suatu produk baik barang atau jasa yang murni adalah temuan kita maka mengacu penjelasan tersebut kita bisa mematenkan produk kita tersebut. Kadang-kadang ada keterlibatan royalty di sana yakni membayarkan sejumlah tertentu kepada pemegang paten karena kita menggunakan produknya.

Ketika marak motor china menyerbu pasar nasional menguak insinden dari kubu Honda yang menuntut produsen motor china karena telah meniru produk yang dipatenkan. Entah sampai dimana polemic tersebut karena tentunya cukup rumit penyelesaiannya dan apalagi terlibat adanya persaingan bisnis di sana. Sering dalam surat kabar tercantum pengumuman mengenai hak paten atas produk tertentu dan larangan meniru atau mengkopi produk tersebut. Bahkan logo-pun sering harus dipatenkan sehingga pihak lain tidak mudah begitu saja meniru logo tersebut.

Kita mestinya tersentak ketika sebuah harian media memberitakan bahwa angklung akan dipatenkan oleh Malaysia. Malaysia mengklaim bahwa di Johor-lah permaian angklung berawal. Padahal menurut tokoh angklung Indonesia yang pernah ke Johor tahun 80-an (?) tidak menemukan adanya angklung di sana. Disamping masyarakat Johor masa itu bahkan tidak mengenal permainan angklung. Nampaknya bahwa angklung sebenarnya adalah murni berasal dari Indonesia. Bahan pembuatan angklung adalah bamboo dan tidak semua Negara memiliki pohon ini. Sejauh ini juga kita tidak pernah mendengar ada Negara, kecuali Malaysia tadi, yang mempertontonkan permainan angklung ini. Pemerintah sebaiknya segera mengklarifikasi hal ini dan secepatnya mengajukan paten.

Barangkali ini nampaknya kali kesekian kita kecolongan. Tentunya kita masih ingat bahwa tempe sudah dipatenkan oleh Jepang, sementara kita juga memiliki produk ini. Trus batik kalau tidak salah juga sudah didahului oleh Malaysia dalam mematenkan produk. Lantas nantinya apa yang tersisa dari kita kalau semua item satu persatu diaku dan dipatenkan oleh Negara lain?

Teman kantor saya pernah diundang yahoo ke Jepang selama seminggu atas temuannya mendesain permainan dakon dalam games yahoo. Artinya permainan dakon sebenarnya adalah murni milik kita. Ada baiknya segera dipatenkan agar tidak terjadi pembajakan oleh pihak lain.

Bahwa sumber daya yang kita miliki begitu melimpah namun pengelolaanya masih amburadul. Kita diberikan tanah sampai seluas hampir 2 juta kilometer persegi sementara Singapura hanya punya 600 kilometer persegi. Belakangan Singapura sibuk membuat daratan baru atau reklamasi pantai yang konon menggunakan pasir yang digali dari pulau kita di sumatera.

Kita juga dilimpahi dengan hutan dan kayu luar biasa luasnya sementara pengusaha dan pemerintah hanya mampu menjual dalam bentuk gelondongan tanpa sedikitpun ada nilai tambahnya. Kita menangkap kesan bahwa berbagai sumber daya kita yang melimpah seolah dipakai “bancakan” oleh sekelompok orang entah itu pemegang hak atau pengusaha, termasuk belakangan marak insiden illegal logging.

Kita harus segera bangkit dan mengelola semua sumber daya yang kita miliki lebih optimal. Bila produk yang kita miliki memang genuine dan berpotensi kenapa tidak segera mempatenkan ke badan paten internasional. Kasus rebutan pulau sipidan ligitan yang akhirnya dimenangkan Malaysia membuktikan lemahnya kita adalam mengelola sumber daya. Haruskah angklung kembali berhasil dipatenkan Malysia, atau dakon dipatenkan Jepang?

Sekedar menyebut sumber daya berpotensi bisa kita sebut seperti wayang kulit, wayang golek, campur sari, berbagai makanan khas serta seabrek kekayaan asli Indonesia lainnya.
Read More ..

Monday, October 09, 2006

Saat Ini

Saya sering mencari “perenungan” atas kehidupan ini, ceilee hebat yaa. Perenungan saya adalah apa sebenarnya hakekat inti dari kehidupan kita ini. Wah berat amat topiknya. Kalau Sidharta Gautama akhirnya menyimpulkan bahwa kehidupan adalah sengsara belaka, kenapa beliau memilih untuk bersemedi, guna menghindari kesengsaraan Berhasilkan beliau dengan solusinya atas kehidupan, ya saya tidak tahu. Kehidupan kita memang harus terus berlanjut manakala kita sudah memilih lahir di alam ini. Alur sederhana yang bisa kita ungkap misalnya waktu kecil kita sangat ingin bersekolah. Ketika sudah sekolah ingin sekali kerja yang enak dan banyak uang. Ketika sudah kerja dan kaya kita ingin dihormati semua orang dan menjadi tokoh. Ketika sudah menjadi tokoh, dihormati dan sebagainya kita ingin dicatat hebat dalam sejarah. Demikian seterusnya.

Bahwa apa yang belum terjadi akan selalu menjadi mimpi kita sementara hari kemarin adalah masa lalu. Pernahkah kita mengalami kebosanan. Tentunya banyak dari kita sering merasa bosan belaka. Ah setiap hari kerja mulu, kerja dan kerja. Sementara yang pensiun juga mengeluh, duh bosannya hari-hari, duduk mulu melihat orang lewat. Yang menganggur mencari kerja apalagi, bosan banget mencari kerja nggak dapat-dapat. Barangkali sudah adakah yang benar-benar nikmat menjalani detik demi detik hidup ini berlalu. Mungkin ada juga, hanya kita saling tidak tahu siapakah gerangan yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya. Apakah beliau itu seorang professor? seorang ustad? seorang pastor? seorang pertapa? seorang tokoh? seorang menteri? presiden? atau malah orang gila di pinggir jalan itu.

Bahwa kehidupan memang silih berganti, kadang indah kadang sedih. Kadang kita merasa bahagia kadang derita tiada akhir. Maka perenungan ini barangkali masih belum bisa memegang apa sih inti dari kehidupan kita. Mestikah kita harus berbuat baik sepanjang waktu? Jelas ini tidak salah, namun adakah orang demikian, masak seumurnya terus berbuat baik, namanya juga manusia akan sulitlah. Pan punya nafsu, ambisi, hasrat, sifat iseng, sifat jahat disamping sifat baiknya. Hmm bahkan baik dan buruk pun dapat secara luas diperdebatkan. Apa yang kita sebut baik belum tentu sama bagi orang lain. Yang kita nilai buruk-pun tidak sama bagi penilaian orang lain.

Bahwa, kita dapat mulai mencoba menengok ke atas, ya betul Tuhan Yang Maha Besar. Jadi kita sebagai makhluk hidup mesti meyakin keberadaan Sang Pencipta ini dulu. Tanpa meyakini sang Pencipta dijamin hidup kita bakal berasa kosong ompong, dan inti kehidupan bakal sulit digapai. Setelah meyakini Pencipta kita, coba tengok alam semesta ini yang terbentang luas dimana kehidupan kita ditopang. Toh kita tidak bisa hidup di langit atau di dasar laut kan. Setelah Tuhan, Alam semesta, berikutnya kita coba tengok saudara kita. Ya betul umat manusia. Jadi hampir lengkaplah semuanya antara keberadaan Tuhan, Alam Semesta dan Umat manusia. Terakhir kita jangan lupa masih ada agama, norma masyarakat dan akal budi kita.

Nah barangkali sudah dekatkah perenungan kita akan inti kehidupan ini. Coba diolah dan ditata secara rapi sekali antara hakikat tadi yakni Pencipta kita, Agama kita, Norma kita, Alam kita, Umat manusia dan pikiran kita. Apakah kira-kira inikah hakikat kehidupan kita? Saya juga belum bisa menjawabnya. Yang jelas kehidupan kita adalah saat ini. Saat ini kita dapat melakukan ibadah kepada Tuhan, dapat melakukan tindakan yang tidak merusak alam, jangan menyakiti sesama/masyarakat serta gunakan selalu akal pikiran kita demi keserasian hakikat tadi.
Read More ..

Tuesday, September 05, 2006

Kendaraan

Konon penjualan kendaraan roda empat nasional adalah sekitar 300 sampai 500 ribu per tahun. Geliat industri otomotif nasional dimulai sejak tahun 1970-an dan nampaknya mencapai puncaknya sekitar tahun 1995 sampai tahun 2000-an. Bila kita ambil penjualan kendaraan nasional sejak tahun 1980 saja maka selama 25 tahun dengan jumlah kendaraan terjual per tahun 300 ribu maka akumulasinya menjadi 7,5 juta unit. Dan bila panjang kendaraan anggap 4 meter maka dibutuhkan setidaknya jalan sepanjang 30 ribu kilometer atau setara dengan 30 kali panjang pulau jawa. Praktis dengan jumlah kendaraan segitu banyak bila tanpa diimbangi pembangunan panjang jalan akan berdampak semakin macetnya jalanan.

Jakarta, adalah kota dimana kendaraan terkonsentrasi. Pernahkah anda bayangkan bila di depan rumah kita saja sudah macet, sehingga sekedar untuk keluar pagar saja terhalang antrian kendaraan. Tidak percaya, nyatanya ini terjadi di berbagai bagian kota. Sebagai masyarakat kita kadang bertanya kemana saja pajak kendaraan yang jumlahnya triliunan rupiah kok kondisi jalan semakin macet ditambah kondisinya yang semakin rusak.

Ada anomali disini manakala kendaraan dibuat dan dipasarkan sebagai bukti kemajuan jaman dan kemudahan, namun di sisi lain kemacetan yang diciptakan menimbulkan biaya social dan beban emosi masyarakat. Ibaratnya untuk pergi sejauh 5 kilometer naik mobil bahkan kadang lebih lambat ketimbang naik sepeda onthel misalnya.

Kendaraan sebagai salah satu ikon suatu pembangunan serta sarana transportasi yang semestinya menjawab hambatan waktu, jarak, tenaga dan biaya sering mulai bergeser menjadi bagian dari hambatan itu sendiri. Di berbagai sudut jalan selalu berjejal yang namanya kendaraan dan menjadikannya sumber masalah social kita.

Mestinya ada yang harus diluruskan di sini bahwa pembangunan memang haruslah seimbang dan sejalan. Percuma menjual 400 ribu kendaraan per tahun bila sarana jalan terbengkelai. Alih-alih menikmati kemudahan berkendara justru timbul masalah dengan transportasi kita. Banyak pakar mengatakan bahwa sebaiknya dikembanagkan mass rapid transport semacam subway, busway atau monorail. Hal ini yang dilakukan di Negara lain ketika jumlah kendaraan pribadi semakin banyak dan jalanan tidak lagi dapat menampung jumlah kendaraan.

Namun bila pembangunan mass rapid transport baru dilakukan sekarang dan itupun berjalan begitu lambat masyarakat luaslah yang menderita dan membayar social cost sangat mahal. Semestinya pembangunan itu dilakukan 5 atau 10 tahun silam dan hari ini sudah menjadi bagian terpadu dari system transportasi kita. Kenyataanya itulah yang terjadi, kemacetan semakin parah ditambah project mass rapid yang menyita waktu, bagian badan jalan serta lambannya project yang mestinya menjadi super project yang dikebut 24 jam sehari 7 hari seminggu.

Nasi menjadi bubur dan kendaraan telah menjadikan kita begitu lelah dan terbebani setiap harinya. Seolah tak pernah ada titik terang dan gambaran akan nyamannya berkendara di Jakarta ini maupun di kota-kota lainnya yang rata-rata menghadapi masalah baik prasarana jalan yang rusak parah maupun perimbangan jumlah kendaraan dan kapasitas jalan yang ada. Belum ditambah dengan perilaku pengguna jalan kita yang seenaknya sendiri maupun jarang yang mematuhi rambu-rambu lalu lintas.
Read More ..

Tuesday, August 08, 2006

Routine

Anyone of you may get bored on daily routine activities. Day to day or week to week seems the same for anything around. Then getting bored may be human life character that mostly we are facing today. Some advices come to us that we may create our alternative activities. For those who are still being students some extra activities may be the solution. Whether it is sport, art, dancing or clubbing seems more popular recently. Some schools are now offering kind of extracurricular may fulfils students need. Some others even have more variant of activities like outbound or traveling.

How about some workers around whether they are in office or manufacture. It may be the same that routine job will born bored-feeling. Let’s have a look at manufacture where people do same thing time to time. Not to mention for years, just few months will impact people get quite bored. If there are no other optional activities then we may imagine how high level of this boring thing. That is why some company release policy of five working days a week. It is equivalent to government regulation that labor may be occupied for forty hours a week or eight hours a day.

Then what kind of occasion thing they do on their waste time. Some people may have side business and some other may have joint productive activities. Whatever it do in shortly people need thing different to compensate their routine job. Moreover in office there will be some facilities available to utilize. There is internet in our computer, sport or fitness in gymnasium or just relaxing in other places. So, it is more common today that people working in office will often go some where on their busy time fulfilling the need. It is no matter that they may go outside after working hours or even at night. Derivative businesses that may arise around offices much more exist recently.

There now some restaurant, sport center, or convenient places where people may spend theirs beyond working time. It is similar to my office situation that some entertainment places now much offering. Just to mention like gymnasium, restaurant or just massage place. It is natural to understand how it will be boring without relaxing as a way out. Human life may be short or human stress may increase as getting bored nearly explodes.
Read More ..

Thursday, April 06, 2006

Toilet

Hampir tidak ada dari kita yang tida mengenal dan akrab dengan tempat yang satu ini. Bahkan sudah menjadi salah satu lokasi santai keseharian kita. Menurut dokter kita, sebaiknya kita mengunjungi tempat ini minimal sehari sekali, hal ini sangat logis karena setiap hari kita makan lebih dari sekali. Kalau tidak kita buang, akan berakibat organ pencernaan kita terganggu karena ibaratnya saluran haruslah lancar dari mulai masuk, proses, distribusi dan buang. Sudah menjadi menu kita sehari-hari, kadang tergantung kebiasaan kita, apakah pagi atau malam hari kita pergi ke toilet untuk tugas rutin kita yakni buang hajat.

Bentuk dari toilet sangatlah beragam, mulai dari toilet alam seperti sungai, kolam ikan, WC umum sampai toilet exclusive di kantor atau hotel mewah. Namun kesemuanya memiliki fungsi yang sama. Seiring berkembangnya kemajuan jaman dan teknologi maka toilet merupakan lebih dari sekedar tempat kita membuang waste kita. Bagi penulis novel misalnya toilet cocok untuk mendapatkan ide segar. Bagi pekerja, toilet juga merupakan tempat membaca atau merokok.

Tidak jarang manakala di toilet, sebelah kubik kita sedang menerima telepon HP-nya dan berbicara panjang lebar. Rekan saya pernah menggunakan toilet untuk tidur, nah lho, gimana. Critanya pabrik sedang sibuk, kerjaan numpuk, dan orang lalu lalang tiada henti disela dering telepon sana sini. Karena malamnya begadang nungguin bayinya, saking kantuknya begitu kerjaan agak senggang pergilah dia ke toilet, duduk dan zzzzz nyenyak banget dia, he he seru juga ya.

Toilet sekarang juga bukanlah suatu tempat yang jorok, kotor atau basah belepotan air. Banyak toilet yang mewah dan membuat betah orang berlama-lama. Di banyak negara maju, toilet dibuat sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu melepas celana dan sepatu kita. Cukup melorotkan celana kita dan duduk sambil baca, bereslah tugas rutin kita tadi.

Toilet juga kadang ungkapan suatu seni dari pemiliknya. Di rumah seniman misalnya, toilet bisa dibentuk gitar, sepatu, atau bahkan dibingkai foto-foto yang unik. Rupanya ekspresi seni sudah merambah ke segala sudut termasuk “tempat belakang” ini. Dulu kalau kita pergi ke toilet untuk kesopanan kita menyebut pergi ke belakang. Hal ini karena umumnya tempatnya yang di belakang rumah, dekat sumur. Namun toilet kini tidak harus di belakang, bisa di tengah atau di depan dari rumah kita, bahkan di setiap kamar bisa juga tersedia toilet.

Di internet sering ditunjukkan berbagai model toilet yang unik dan eksentrik. Ada gambar kartun seseorang sambil ngetik di komputer duduknya di toilet, lebih praktis kan. Di acara TV show semacam rumah gue atau crib, itu yang ditayangkan MTV, dibedah seluruh bagian dari rumah seorang artis misalnya. Dari mulai ruang tamu, kamar tidur, isi kulkas dan tidak ketinggalan toilet. Bahkan toilet ini dapat menggambarkan karakter dari pemiliknya. Ada yang biasa, jorok, unik, bersih, rapi dan sebagainya.

Di tempat-tempat umum toilet juga dibisniskan. Bagaimana kalau kita ke terminal bus dan ingin pipis misalnya? Nah pergilah ke toilet umum, hanya kita harus bayar lho. Di stasiun kereta juga sama. Jadi toilet sudah merambah menjadi produk bisnis juga. Ada yang sering naik bus? Ada juga di sana bus yang biasanya VIP disediakan toilet. Jadi di tengah jalan bila pengin ke belakang sementara tujuan masih jauh, tidak perlu harus sakit perut menahan, bisa ke toilet mobile yang disediakan. Cuman- biasanya begitu dibuka dan kebetulan aromanya bau, langsung wess ke sebar seluruh penumpang bus, ya anggap sebagai aroma alami deh.

Toilet juga bisa digunakan ajang melatih mengelola waktu. Pernah jadi pramuka atau kegiatan camping di alam terbuka. Nah, mandinya atau buang airnya akan dijatah oleh guru-guru kita. Mandi dan buang air paling lama 10 menit, karena jadwal kegiatan ketat, pengguna banyak sementara toilet/kamar mandi terbatas.

Pebisnis kelas berat sering harus membawa laptop sambil ke toilet. Jadinya ya mengetik di atas toilet, karena kan pengambilan keputusan tidak boleh berhenti meskipun sedang buang hajat. Toilet adalah teman sejati kita yang selalu setia disaat kita butuh. Jagalah selalu kebersihannya.
Read More ..

Tuesday, February 28, 2006

Kejujuran

Semula judulnya pengin diberi kebohongan sih, namun biar lebih positif maka diberi saja judul kejujuran, ya maksudnya sama saja. Konon di era gombalisasi ini langka dan jarang ditemukan makhluk yang namanya kejujuran ini. Yang mudah dan gampang ditemui sehari-hari yaa kebohongan. Coba kita mulai dari bangun tidur, biasanya kita jarang bangun sebelum jam lima pagi, kalaupun ada dan kebetulan kita muslim, kita sering bangun deket-deket jam enam, sembahyang dan kadang tidur lagi. Mandi ya biasanya setelah jam enam. Baju rapi siap ngantor atau kerja, kadang kita tidak sempat sarapan dan duduk sebentar dengan keluarga sekedar sarapan bareng. Kita bisa jadi lebih sering sarapan di kantor saja. Jam kantorpun cukup jarang dari kita yang bisa datang sebelum jam tujuh pagi, atau jam delapan, lebih sering kita nongol setelah jam delapan. Ya macetlah, ya ada tabrakan lah, ada demo lah, semuanya menjadi alasan rutin manakala kesiangan. Barangkali kalau kita jujur maka idealnya kita bangun jam lima, sembahyang, mandi, sarapan bareng keluarga, dan nyampai tempat kerja jam tujuh pagi.

Nah apa yang dilakukan begitu nyampai di meja kantor. Sudah datangnya setelah jam delapan, eh kita mesti cari sarapan dulu ke luar, pan nggak sarapan di rumah tuh. Bahkan bisa jadi warungnya belum siap, maka ya kita tungguin sampai sarapan kita siap. Usai makan, kita tidak terus balik ke meja, merokok dulu-lah, dan eh ketemu teman nih, masak nggak ngobrol dulu sih. Jadilah sarapan yang mestinya setengah jam molor jadi sejam atau bisa lebih lama. Oke, balik ke meja kerja nih critanya, langsung kerja, sibuk ini itu? Belum dong, buka email dulu-lah bentar, baca email dan ngirim-ngirim balasan. Kalau ngemailnya seputar kerjaan mendinglah, lha kadang email bukan kerjaan je. Lewatlah lagi setengah jam, jadi bisa mulai kerja nih? Ah yang bener, masak nggak telepon atau sms dulu sih, ya musti telepon lah. Yach lewat lagi sepuluh atau lima belas menit. Oke, siap kerja nih Bos, buka-buka berkas kerja, dahi berpikir keras, ahh ngopi enak nih, ya sudah pesen kopi nih biar otak encer getu. Common guys/ladies, setengah hari kita belum dapet apa-apa nih, namun bila Bos lewat, ahaa, muka serius melotot layar komputer, tangan pegang pulpen seolah berpikir keras demi perusahaan tercinta, ha ha basi lah yauw.

Jadi mesti kita karyawan kecil, yang sepak terjang kita tidak terlihat pengambil keputusan, namun bukan berarti kita bisa semuanya jujur. Banyak ketidakjujuran di sana, ya gimana lagi, kanan kiri juga begitu, atau bos sami mawon he, mulai berangkat kantor dan sampai kantor lebih banyak atribut ini itu ketimbang main job kita yang sebenarnya. Ini baru sebatas kita, sebagai kuli rendahan, yang tidak ada kesempatan untuk korupsi misalnya. Bagaimana bila kita pengambil keputusan, pemegang wewenang, baik di perusahaan atau negara, sementara kontrol diri kita semaunya dan asal gue seneng. Jadilah ketidakjujuran, atau kebohongan disetiap gerak gerik kita. Coba amati kota Jakarta di jam-jam makan, wah macetnya, saking banyaknya orang-orang yang makan siang ke restoran mahal, atau TTM, teman tapi mesra, dan seterusnya. Ya, kalau gaji kita besar dan melimpah bisalah jalan, lha kalau gajinya biasa saja, sementara kebohongan dan gaya kita luar biasa, maka tentunya kita kepaksa cari obyekan kan. Kalau kita punya wewenang, ya bisa kita gunakanlah dikit, buat dapet tambahan fulus dan seterusnya.

Hmm, itulah kebohongan kita. Watu demi waktu tiada puasnya kita selalu memelihara kebohongan kita. Sama teman bohong, sama bos juga, sama keluarga sami mawon. Padahal hati nurani kita kadang ngingetin, tapi kalau sudah biasa dan parah, ah jadi masa bodohlah semuanya, nyang penting gue happy, banyak doku, mau bersenang-senang bisa, dan semua kenikmatan duniawilah, bodo amat.

Wahai kita semua, teman-teman, saudara, kita rasa bahwa kebohongan tidaklah akan berhenti kecuali kita sendiri yang menghentikan. Say no untuk bohong-lah. Kembali ke hati nurani kita. Ibaratnya kita berhitung 100%, maka janganlah semuanya bohong. Coba isi juga dengan kejujuran kita. Bolehlah bohong 50% lalu jujur sisanya. Dimaklumi, namanya juga manusia, dan hendaklah cukuplah itu bagian terbesar kebohongan kita, dan segera kurangi terus sampai kebohongan tinggal 40%, 30%, 5% dan berangsur-angsur hanya 1 atau 2% saja. Mustahil sebagai makhluk yang penuh godaan kita bisa 100% jujur. Jadi meski kebohongan adalah manusiawi, namun janganlah kebohongan mengambil alih kita. Kendalikan dan kuasai kebohongan itu dan gunakan hanya pada saat yang tepat, dan itupun 5% saja yaa.
Read More ..