Showing posts with label Social. Show all posts
Showing posts with label Social. Show all posts

Tuesday, October 26, 2010

Bekerja Untuk Rakyat

Barangkali melihat dan mengamati negeri kecil di semenanjung Malaysia- yang bernama Singapura tidak ada habisnya. Meski hanya Negara kecil namun index kompetisinya sangat tinggi kalau tidak bisa dikatakan yang tertinggi di dunia. Dengan jumlah penduduk hanya beberapa juta saja- jauh dibawah penduduk Jakarta bahkan, singapura mampu menjadi Negara perdagangan, pariwisata, pendidikan dan menjadi magnet dunia yang tidak kunjung surut daya tariknya. Kalau orang berpikir tentang Singapura maka yang terbayang adalah bandaranya yang menawan, indah dan bersih, pelayanan super cepat dan kenyamanan hidup karena tertatanya lingkungan. Negara ini tidak banjir karena rancang bangun kotanya hebat, drainasenya besar dan luas dimana air langsung mengalir ke laut, bersih, tidak terlihat sampah di sudut manapun, bahkan meludah atau menyalakan korek di tempat umum akan didenda dan ketahuan karena kamera yang terpasang dimana-mana. Tidak banyak kemacetan disana karena jumlah mobil terbatas, bukan karena mereka tidak mampu, namun mengapa harus memiliki mobil berpajak besar kalau angkutan umumnya sedemikian nyaman dan cepat. Sudah puluhan tahun mereka menikmati mass rapid transport subway bawah tanah yang cepat, murah, aman dan nyaman. Pergi kesudut manapun bisa ditempuh dalam hitungan menit saja. Kalau di profiling barangkali bawah tanah Negara kota itu bagaikan sarang ninja mutant he he, jalur subway menjangkau semua sudut kota. Mereka juga memiliki hutan kota yang fungsinya untuk paru-paru kota.

Tayangan Discovery beberapa waktu lalu makin mengejutkan dengan apa yang direncanakan dan sedang dibangun oleh Negara kota ini. Ternyata mereka sedang membuat pembuatan mekanis air buangan/limbah menjadi air yang bisa langsung diminum. Mereka sedang mengerjakan proyek raksasa yang melibatkan pembangunan fisik raksasa puluhan kilometer untuk menampung semua air limbah dan dialirkan serta diproses menjadi ramah lingkungan. Air hasil pemrosesan itu bisa langsung diminum karena telah disaring dan dimurnikan. Satu masalah selesai, yakni mereka sudah memliki cadangan air minum /air bersih tak terbatas. Ini cara berpikir yang cerdas, karena sempitnya dan terbatasnya alam mereka harus bisa menghasilakn air bersih bahkan dari limbah. Investasinya sudah tidak dipikirkan lagi, disamping ini rencana dari era Lee Kuan Yew, selain ide mass rapid transport tadi, juga merupakan kebutuhan Utama setiap orang. Mereka juga membendung laut dan mendesain bak control raksasa yang tujuannya juga sama, mencari sumber daya alam untuk menghasilkan air bersih siap minum. Laut di hadapan Marina itu ditanggul dengan bangunan modern raksasa dan disaring untuk menghasilkan air bersih. Saat menghadapi masalah bila laut pasang dan meluber mereka tidak menyerah dan membuat 10 turbin berukuran raksasa dimana satu turbin beratnya setara dengan boeing 747 yang gunanya buat mengendalikan air pasang. Tidak ada debat, tidak ada demo, tidak ada bikin aturan ini itu, nyindir pembayaran pajak dll- yang jelas mereka bekerja sedemikian rupa, murni untuk kelangsungan hidup dan peningkatan kenyamanan dan kesejahteraan setiap orang di sana.

Kesungguhan mengerjakan proyek yang sudah dicanangkan sekian puluh tahun sebelumnya ini terlihat saat mereka harus memasang turbin raksasa seberat pesawat boeing itu, mereka mendatangkan salah satu mesin terbesar di dunia yang biaya sewa perjamnya adalah 20 ribu dollar. Mesin raksasa mirip kapal tongkang raksasa itu memang berada di laut dan menngangkat serta memasang turbin ke sarangnya. Tidak perlu ngomong berbusa-busa, andaikan seorang rakyat kecil melihat apa yang dikerjakan dan dilakukan oleh Negara guna kepentingan rakyatnya sudah sangat terjawab dari pekerjaan itu. Ngga perlu ngeles ini itu dan seterusnya namun itulah pemimpin atau pemerintahan yang sesungguhnya, yang bekerja cerdas, berpikir jauh ke depan dan berbuat yang terbaik bukan semata pamrih dan lips service namun bekerja dan membangun yang sesungguhnya !!

Pada saat yang sama alangkah beda dan jauh, dengan yang terjadi di kota seberang bernama Jakarta. Konon hujan beberapa jam saja langsung terjadi genangan dan banjir. Praktis kota akan stuck dan macet total wong ngga banjir saja sudah macet parah. Lantas kenapa tidak berbuat sesuatu dan mengerjakan pekerjaan besar. Kenapa drainasi bawah tanahnya tidak diperbaiki dan diperbesar, kanal pembuang air kenapa tidak segera dibangun dan dioptimalkan fungsinya. Kenapa tidak membangun mesin pemroses sampah modern yang mampu menghaluskan sampah atau mengubahnya menjadi ramah lingkungan. Kenapa tidak membangun lebih banyak jalan layang atau double - triple decker untuk menambah kapasitas jalan. Ada memang rencana subway dan monorail saat itu, namun kenapa tidak dilaksanakan. Kalau semua Negara lain bisa mengerjakan apapun, bikin terowongan bawah laut, bandara dengan menguruk laut, jembatan diatas laut dan seterusnya, kenapa Negara raksasa ini tidak berbuat apapun demi setiap orang yang menggantungkan hidupnya di sana. Yang biasa terjadi adalah banyaknya omongan, pidato, ceremonial, ungkapan, saling ngeles, pencitraan dan yang sebangsanya..ketimbang bekerja dan berbuat yang riil, jujur, tulus buat rakyatnya,,,,Wallahu alam.

Read More ..

Tuesday, August 03, 2010

Misbakhul Munir


Demak adalah kota wali, begitu bunyi sign board di sekitaran kota. Di sana terdapat masjid Demak yang kesohor itu, juga makam Sunan Kalijogo, serta makam Raja Demak dan keluarganya. Di belakang masjid Demak terdapat juga pemakaman Baruklinting dan Lembah Putri yang masa kehidupannya justru lebih tua dari Walisongo itu sendiri. Setiap hari ramai pengunjung datang ke tempat-tempat tadi dengan tujuan religi.

Salah satu petugas pemegang kunci (kuncen) makam Baruklinting adalah bernama mas Agus, yang merupakan keturunan kuncen turun temurun. Untuk bisa menjadi kuncen bukanlah sembarang orang namun mereka yang mendapatkan petunjuk semisal lewat mimpi atau pertanda lainnya. Dari obrolan dengan kuncen tersebut disebutkan adanya ustadz yang cukup menarik. Konon ustadz tersebut mengelola sebuah pesantren yang berlokasi agak terpencil di luar kota Demak. Berlokasi antara Demak dan Purwodadi. Jalan menuju pesantren kondisinya parah dan belum permanent. Jika hujan praktis mobil tidak akan bisa lewat, kecuali sejenis jeep atau yang berpenggerak 4x4. Konon lagi Bupati Demak pernah akan mengaspal jalan tersebut namun jutsru tidak diperkenankan oleh sang Ustadz. Dijelaskan oleh ustadz bahwa untuk menuju kebaikan orang harus niat dan berani menempuh jalan yang jelek sekalipun.

Tentu banyak bertebaran pesantren di sekitaran Jateng, namun pesantren dari ustadz ini ternyata memiliki daya tarik. Meski berada di lokasi yang cukup terpencil yang bahkan belum semua rumah di sekitaran berpenerangan listrik, tetap menarik calon santri untuk datang. Kebanyakan calon santri berasahal dari luar Demak, meski sebagiabn berasala dari sekitaran. Ustadz ini yang diyakini banyak orang memiliki pengetahuan yang luas, juga konon hapal Al-quran. Meski tentu saja banyak ustadz lain yang juga hapal kitab agama Islam tersebut. Yang menarik adalah Ustadz ini pernah bertemu dan bersalaman dengan Nabi Qidir. Dijelaskan sang kuncen bahwa Nabi Qidir itu berada di lautan dan daratan. Barang siapa yang suka berbuat kebajikan bisa saja beruntung bertemu dengan Nabi Qidir. Ada yang menjelaskan bahwa nabi Qidir ini tidak memiliki jari tengah dan ibu jarinya tidak bertulang, Wallahualam.

Selain konon pernah bertemu nabi Qidir, ayahanda dari sang ustadz tersebut meninggal di Mekah saat ibadah haji dan dikuburkan di sana. Selang beberapa waktu konon jenasahnya digali untuk dibuatkan makam yang lebih permanent dan ditemukan jenasahnya masih utuh. Hal ini membuat mereka yang menggali kuburnya takjub dan dibuatkan semacam catatan bahwa beliau berasal dari Indonesia, Wallahualam.

Benar jalan menuju pesantrennya rusak parah. Beberapa kali dek mobil terantuk batu karena jalannya rusak parah. Yang lewat hanya sepeda motor, truk dan pick up pengakut barang. Perjalanan dari Demak kota tidak membutuhkan waktu lama, sekitaran satu jam. Akhirnya dari kejauhan terlihat bangunan masjid yang besar dan bagus. Benar penuturan sang kuncen bahwa di tengah-tengah perkampungan yang sangat sederhana terdapat pesantren yang besar dengan bangunan yang menarik. Sesampai di Pesantren disambut oleh beberapa santri. Sejak awal sang kuncen tidak bisa memastikan apakah bisa bertemu sang Ustadz, karena konon lagi, tidak mudah untuk menemuinya. Pernah ada seorang dari Turki yang sangat ingin bertemu, disebutkan sampai 7 hari, namun apa daya tidak berhasil bertemu. Memang dijelaskan bahwa ada beberapa orang dari Malaysia atau Negara lain yang dating dan ingin bertemu. Kurang jelas apakah sebagian bisa bertemu atau tidak.

Sampai di ruang tamu dimana hanya duduk di lantai saja, karena tidak ada kursi di sana. Di ruang tamu tersebut terpampang sebuah foto tua dengan gambar 3 orang yakni Ayahanda, Guru dan Ustadz itu sendiri. Tulisan arab di papan tulis adalah arab kuning tanpa notasi. Konon pesantren saat ini ada yang modern dan ada yang tradisional. Pesantren Gontor di Jatim dan Assallam di Solo adaloah contoh pesantren modern. Sementara pesantren dari ustadz ini nampaknya tradisional.

Setelah menunggu cukup lama sambil dihidangkan wedang jahe, kripik singkong dan biscuit yang tidak berani menyentuhnya, datanglah sang Ustadz. Beliau berperawakan kecil namun cekatan. Penuturan dari sang kuncen bahwa meski ustadz tersebut jalannya terlihat pelan, namun konon tidak bisa disusul. Orang Jawa kadang menjuluki dan menganggap mereka seperti ini sebagai orang setengah wali. Yang ditangkap dari penampilan dan tindak tanduk ustadz beliau berwajah halus dan bersih. Berpakaian baju dengan semacam jas sederhana, bersarung dan berkopiah. Berbasa basi sebentar sang ustadz menanyakan dari mana dengan keperluan apa. Kemudian dipersilakan minum jahe yang diolah dari kebun, singkong juga dari kebon, dan hanya biscuit yang dibeli di warung. Dijelaskan bahwa asalnya dari Semarang dan keperluanya ingin silaturohmi dan barangkali mendapat wejangan satu dua kata dari ustadz. Beliau sangat ramah dan antusias dalam berbicara. Terjadilah Tanya jawab dan sang ustadz menjelaskan sudah berusia 70 tahun. Sejak tahun 1968 membangun pesantren ini dan tahun 1974 membangun masjid yang saat ini terlihat megah. Masjid dipugar tahun 2003. jumlah santri sekitar 400 laki-laki dan 100 perempuan. Santri yang dari luar daerah menginap di pesantren sementara yang dekat ya pulang ke rumah. tidak ada biaya resmi, hanya ala kadarnya semampu dari santrinya.

Kehidupan di pesantren kata ustadz sangat sederhana. Setiap hari santri-santri itu makan berlauk tempe dan sayuran seperti kangkung atau bayam. Gaya bicara ustadz itu semangat, cepat dan banyak perumpamaan. Untuk bisa menangkap penuturannya harus menyimak, karena banyak istilah Jawa kuno. Yang diwejangkan adalah seputar hidup sederhana, berbuat baik, sedekah dan hidup sehat. Meski sudah berumur gerakan ustadz itu masih lincah dan sigap. Aromanya tercium semacam parfum atau wewangian yang barangkali digunakan oleh Ustadz. Untuk bisa membangun pesantren yang cukup besar ini ustadz tersebut menjelaskan tidak pernah mengajukan proposal ke pihak lain, termasuk Pemda atau donator. Ebntah bagaimana sering berdatangan pejabat daerah dan kebetulan melihat pembangunan pesantren lantas memberikan sumbangan. Konon sudah seringkali ustadz tersebut dubujuk untuk mengajukan bantuan, namun selalu menolak. Uniknya pembangunan terus berjalan dan ada saja yang mengulurkan tangan membantu. Saat ini mereka sedang meluaskan bangunan pesantrennya di bagian belakang berbentuk letter L dengan panjang 60 x 8 M dan 30 x 8 M.

Penginnya berlama –lama namun melihat kesibukan ustadz dan kebetulan sudah masuk waktu Ashar maka berpamitan. Kuncen Agus merasa beruntung bisa bertemu dan mendapat doa serta wejangan karena ternyata Ustadz tadi baru saja kembali dari Jambi. Alumni pesantren yang cukup banyak dari Jambi dan sekitarnya, sebagian berhasil dalam usahanya membentuk acara reuni-an dan Ustadz pun turut diundang kesana hadir dengan akomodasi pesawat terbang. Barangkali itulah sekelumit profil ustadz yang tidak mengenal lelah, bekerja di sawah, mengelola santri tanpa biaya dan misinya berbuat kebajikan untuk sesama. Bisa jadi agak ironi denga ustadz modern kota besar yang katakanlah cenderung komersial, meski tidak semuanya. Diyakini masih banyak ustadz lainnya yang sederhana dan berdakwah murni demi Agama.

Pulangnya baru merasakan perut terasa lapar, maklum sudah sore. Setelah menurunkan kuncen Agus di Demak- karena ada acara maka ngga gabung- rekan satunya menyarankan meluncur ke Kudus berburu garangasem yang makyuss. He he baru saja di wejang sang Ustadz untuk hidup sederhana dan hidup sehat malah sudah berburu kuliner lagi. Tapi garangasem kan masakan asli Jawa, jadi turut nguri uri produk dari nenek moyang juga he he. Selepas menyantap sepiring nasi dan sebungkus garangasem seharga 15rb meluncurlah kembali ke basecamp, di lampu merah masih sempat beli kedelai rebus 2 ikat seharga 2 ribu perak, wuihh makan mulu ya. Neeenek moyangku orang pelauut,,,menerjang ombak ngga pernah takuut, nah lho makin ngga nyambung.

Read More ..

Thursday, July 22, 2010

Banjaran Arjuna


Hari telah malam dan syukur cerah tanpa hujan yang biasanya mengguyur. Halaman Balikota yang luas itu sangat meriah. Ratusan kursi ditata menghadap panggung. Halaman kiri disediakan layar besar. Belakang panggung itu berupa taman dan halaman keramik yang dikelililing gedung Balaikota berbentuk letter U. Ditempat-tempat tadi bertebaran ribuan pengunjung yang malam itu menyaksikan pagelaran wayang kulit. Bagi tamu undangan bisa duduk di kursi, menikmati wayang sambil makan nasi dus. Sementara bagi pengunjung lainnya yang tidak kebagian kursi bisa melihat dari layar besar tadi atau dari belakang panggung. Makan-nya, bisa beli dari banyak lapak yang sengaja datang dan menjajakan dagangannya. Pagelaran wayang kulit digelar dalam rangka syukuran atas terpilihnya walikota Semarang yang baru. Wayang kulit ini juga merupakan “klangenan” dari masyarakat Jawa pada umumnya. Pagi penikmat sejati, adalah hal ringan untuk melek dan nonton pagelaran wayang yang dimulai dari jam 21.00 sampai dengan pagi hari jam 04.00 WIB, atau tujuh jam penuh. Apalagi dalangnya adalah dalang nomor satu seluruh dunia (karena Negara lain kan ngga ada dalang he he), yakni Ki Anom Suroto berserta anaknya Bayu, yang berasal dari Solo.

Melihat pagelaran wayang kulit seolah pengobat rindu akan budaya unik yang satu ini. Meski sejak kecil menyukai wayang dan sering melek semalam suntuk, namun belakangan gelaran wayang kulit mulai jarang. Entah karena mulai ngga popular, atau rates sewanya mulai mahal, atau krisis ekonomi dan sebagainya. Sehingga gelaran gratis dengan dalang yang kondang ini sungguh sayang dilewatkan. Tempo hari salah satu stasiun TV rajin menyiarkan langsung pertunjukan wayang kulit, namun berhenti begitu saja. Entah bagaimana kelak nasib dari budaya ini atau budaya lainnya. Apakah begitu saja hilang dan terlupakan tanpa ada yang nguri-uri lagi. Nenk moyang sudah mencurahkan pikirannya dan menghasilkan budaya nan tinggi, namun hari ini sungguh sedikit apresiasi untuk menjaga dan mengembangkannya. Konon rates sewa mereka tidaklah terlalu mahal. Bandingkan dengan Inul yang manggung 4 lagu saja sewanya 50 juta. Wayang kulit dengan puluhan kru penabuh gamelan, sinden penyanyi, bintang tamu, sekian perangkat, dan wayangnya yang mahal, sewanya juga tidak jauh dari Inul.

Mudah-mudahan kelak masih tersisa budaya budaya nan tinggi yang bisa dinikmati generasi mendatang. Mudah-mudahan masih tersisa sesuatu yang berharga dari bangsa ini yang semakin tergerus dan krisis oleh habisnya sumber daya alam, kepongahan berkorupsi ria disela-sela makin sulitnya masyarakat mencari penghidupan.

Lakon Banjaran Arjuna ini sangat menarik untuk disimak. Apalagi dibawakan langsung oleh sang maestro Ki Anom Suroto beserta anaknya yang tidak kalah lihai memainkan wayang. Jalan ceritanya kurang lebih seperti ini : Disadur dari Lestarikan Alamku 06 : 74

Arjuna (Sanskerta: अर्जुन; Arjuna) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu putri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan "wujud semesta" Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau "Nyanyian Orang Suci", yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.

Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran".

Arjuna mendapat julukan "Kuruśreṣṭha" yang berarti "keturunan dinasti Kuru yang terbaik". Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan).

Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menjawab:
"Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah "yang tak pernah lapuk", itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun."

Kelahiran
Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.

Sifat dan kepribadian
Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan "Dananjaya". Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan "Parantapa", yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki "Kurunandana", yang artinya putra kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain "Kuruprāwira", yang berarti "kesatria Dinasti Kuru yang terbaik", sedangkan arti harfiahnya adalah "Perwira Kuru".

Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat khusyuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, "Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai"

Masa muda dan pendidikan
Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar "Maharathi" atau "kesatria terkemuka". Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.

Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama "Brahmasirsa". Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Pusaka
Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti "anugerah Dewa".

Arjuna mendapatkan Dropadi
Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di atas. Kesatria yang berhasil memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi.

Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi.

Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, "Ibu, engkau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kami bawa!". Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab "Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh". Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama 1 tahun.

Perjalanan menjelajahi Bharatawarsha
Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Ia memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putra, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putra. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putra yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.

Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.

Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.

Terbakarnya hutan Kandawa
Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Arjuna dalam masa pembuangan
Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa'atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma'af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama "Pasupati".

Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci. Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Pandawa beserta Dropadi menuju ke kerajaan Wirata. Di sana Arjuna menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membantu putra mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh yang hendak menyerbu kerajaan Wirata.

Meletusnya perang
Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tegas oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang.

Arjuna menerima Bhagawadgita
Kresna, adik Baladewa, tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan antara Pandawa dan Korawa. Ia ingin salah satu pihak memilih tentaranya, sedangkan pihak yang lain memilihnya sebagai penasihat. Akhirnya, Duryodana memilih tentaranya, sedangkan Arjuna memilih Kresna sebagai kusir keretanya selama delapan belas hari pertarungan di Medan Kuru atau Kurukshetra. Dalam Mahabharata, peran Kresna sebagai kusir bermakna "pemandu" atau "penunjuk jalan", yaitu memandu Arjuna melewati segala kebimbangan hatinya dan menunjukkan jalan kebenaran kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang diuraikan Kresna kepada Arjuna disebut Bhagawadgita.

Hal itu bermula beberapa saat sebelum perang di Kurukshetra. Arjuna melakukan inspeksi terhadap pasukannya, agar ia bisa mengetahui siapa yang harus ia bunuh dalam pertempuran nanti. Tiba-tiba Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat kakeknya, guru besarnya, saudara sepupu, teman sepermainan, ipar, dan kerabatnya yang lain berkumpul di Kurukshetra untuk melakukan pembantaian besar-besaran. Arjuna menjadi tak tega untuk membunuh mereka semua. Dilanda oleh masalah batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertekad untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Arjuna berkata:
"Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putra Drestarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Dewi Laksmi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?"

Melihat hal itu, Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama Hindu, menguraikan ajaran-ajaran kebenaran agar semua keraguan di hati Arjuna sirna. Kresna menjelaskan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sepantasnya dilakukan Arjuna sebagai kewajibannya di medan perang. Selain itu Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang dijabarkan Kresna tersebut dikenal sebagai Bhagawadgita, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Kitab Bhagawad Gita yang sebenarnya merupakan suatu bagian dari Bhismaparwa, menjadi kitab tersendiri yang sangat terkenal dalam ajaran Hindu, karena dianggap merupakan intisari dari ajaran-ajaran Weda.

Arjuna dalam Bharatayuddha
Dalam pertempuran di Kurukshetra, atau Bharatayuddha, Arjuna bertarung dengan para kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma. Di awal pertempuran, Arjuna masih dibayangi oleh kasih sayang Bisma sehingga ia masih segan untuk membunuhnya. Hal itu membuat Kresna marah berkali-kali, dan Arjuna berjanji bahwa kelak ia akan mengakhiri nyawa Bisma. Pada pertempuran di hari kesepuluh, Arjuna berhasil membunuh Bisma, dan usaha tersebut dilakukan atas bantuan dari Srikandi. Setelah Abimanyu putra Arjuna gugur pada hari ketiga belas, Arjuna bertarung dengan Jayadrata untuk membalas dendam atas kematian putranya. Pertarungan antara Arjuna dan Jayadrata diakhiri menjelang senja hari, dengan bantuan dari Kresna.

Pada pertempuran di hari ketujuh belas, Arjuna terlibat dalam duel sengit melawan Karna. Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna. Saat Arjuna menyerang Karna kembali, kereta Karna terperosok ke dalam lubang (karena sebuah kutukan). Karna turun untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok. Salya, kusir keretanya, menolak untuk membantunya. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Pada saat itulah Kresna mengingatkan Arjuna atas kematian Abimanyu, yang terbunuh dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa kereta. Dilanda oleh pergolakan batin, Arjuna melepaskan panahnya yang mematikan ke kepala Karna. Senjata itu memenggal kepala Karna.

Kehidupan setelah Bharatayuddha
Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya. Upacara tersebut dilakukan dengan melepaskan seekor kuda dan kuda itu diikuti oleh Arjuna beserta para prajurit. Daerah yang dilalui oleh kuda tersebut menjadi wilayah Kerajaan Kuru. Ketika Arjuna sampai di Manipura, ia bertemu dengan Babruwahana, putra Arjuna yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semenjak kecil. Babruwahana bertarung dengan Arjuna, dan berhasil membunuhnya. Ketika Babruwahana mengetahui hal yang sebenarnya, ia sangat menyesal. Atas bantuan Ulupi dari negeri Naga, Arjuna hidup kembali.

Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuddha berakhir, Dinasti Yadu musnah di Prabhasatirtha karena perang saudara. Kresna dan Baladewa, yang konon merupakan kesatria paling sakti dalam dinasti tersebut, ikut tewas namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Setelah berita kehancuran itu disampaikan oleh Daruka, Arjuna datang ke kerajaan Dwaraka untuk menjemput para wanita dan anak-anak. Sesampainya di Dwaraka, Arjuna melihat bahwa kota gemerlap tersebut telah sepi. Basudewa yang masih hidup, tampak terkulai lemas dan kemudian wafat di mata Arjuna. Sesuai dengan amanat yang ditinggalkan Kresna, Arjuna mengajak para wanita dan anak-anak untuk mengungsi ke Kurukshetra. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Arjuna berusaha untuk menghalau serbuan tersebut, namun kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Dengan sedikit pengungsi dan sisa harta yang masih bisa diselamatkan, Arjuna menyebar mereka di wilayah Kurukshetra.

Setelah Arjuna berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan sisa penghuni Dwaraka, ia pergi menemui Resi Byasa demi memperoleh petunjuk. Arjuna mengadu kepada Byasa bahwa kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Byasa yang bijaksana sadar bahwa itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Byasa menyarankan bahwa sudah selayaknya para Pandawa meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah mendapat nasihat dari Byasa, para Pandawa spakat untuk melakukan perjalanan suci menjelajahi Bharatawarsha.

Perjalanan suci dan kematian
Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa. Dalam perjalanan sucinya, para Pandawa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanannya.

Ketika para Pandawa serta istrinya memilih untuk mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka, Arjuna gugur di tengah perjalanan setelah kematian Nakula, Sahadewa, dan Dropadi.

Arjuna di Nusantara
Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arjuna terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti misalnya Kakawin Arjunawiwāha, Kakawin Pārthayajña, dan Kakawin Pārthāyana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwāha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono.

Arjuna dalam dunia pewayangan Jawa
Arjuna juga merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Di bawah ini disajikan beberapa ciri khas yang mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahābhārata versi India dengan bahasa Sansekerta

Sifat dan kepribadian
Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).

Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.

Pusaka
Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putra Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Istri dan keturunan
Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai banyak sekali istri,itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang sekaku berguru kepada banyak pertapa. Berikut sebagian kecil istri dan anak-anaknya:
1. Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu;
2. Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra;
3. Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras;
4. Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan;
5. Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;
6. Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka;
7. Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni;
8. Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga;
9. Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;
10. Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma;
11. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa;
12. Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada;
13. Dewi Maheswara;
14. Dewi Retno Kasimpar;
15. Dewi Dyah Sarimaya;
16. Dewi Srikandi.

Julukan
Dalam wiracarita Mahabharata versi nusantara, Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). "Begawan Mintaraga" adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.

Nama lain
Nama lain Arjuna di bawah ini merupakan nama lain Arjuna yang sering muncul dalam kitab-kitab Mahabharata atau Bhagawad Gita yang merupakan bagian daripadanya, dalam versi bahasa Sanskerta. Nama-nama lain di bawah ini memiliki makna yang sangat dalam, mengandung pujian, dan untuk menyatakan rasa kekeluargaan (nama-nama yang dicetak tebal dan miring merupakan sepuluh nama Arjuna).
1. Anagha (Anaga, yang tak berdosa)
2. Bhārata (Barata, keturunan Bhārata)
3. Bhārataśreṣṭha (Barata-sresta, keturunan Bhārata yang terbaik)
4. Bhāratasattama (Bharata-satama, keturunan Bhārata yang utama)
5. Bhārataśabhā (Barata-saba, keturunan Bharata yang mulia)
6. Dhanañjaya (perebut kekayaan)*
7. Gandīvi (Gandiwi, pemilik Gandiwa, senjata panahnya)
8. Gudakeśa (penakluk rasa kantuk, yang berambut halus)
9. Jishnu (hebat ketika marah)*
10. Kapidhwaja (yang memakai panji berlambang monyet)
11. Kaunteya / Kuntīputra (putra Dewi Kunti)
12. Kīrti (yang bermahkota indah)*
13. Kurunandana (putra kesayangan dinasti Kuru)
14. Kurupravīra (Kuru-prawira, perwira Kuru, ksatria dinasti Kuru yang terbaik)
15. Kurusattama (Kuru-satama, keturunan dinasti Kuru yang utama)
16. Kuruśṛṣṭha (Kuru-sresta, keturunan dinasti Kuru yang terbaik)
17. Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)
18. Pāṇḍava (Pandawa, putra Pandu)
19. Parantapa (penakluk musuh)*
20. Pārtha (keturunan Partha atau Dewi Kunti)*
21. Phālguna (yang lahir saat bintang Uttara Phalguna muncul)*
22. Puruṣaṛṣabhā (Purusa-rsaba, manusia terbaik)
23. Sawyaśachī (Sawya-saci, yang mampu memanah dengan tangan kanan maupun kiri)*
24. Śwetawāhana (Sweta-wahana, yang memiliki kuda berwarna putih)*
25. Wibhatsu (yang bertarung dengan jujur)*
26. Wijaya (yang selalu memenangkan setiap pertempuran)*

Read More ..

Friday, May 21, 2010

Dian Sastro Wardoyo


Paling tidak ada beberapa berita yang in belakangan ini. Misalnya nikahnya artis terkenal Dian Sastro Wardoyo dengan anak dari keluarga kaya. Dian Sastro yang merupakan artis kondang dengan film layar lebar-nya “ada apa dengan cinta” mengakhiri masa lajangnya. Tentu saja artis cantik ini sebelumnya dikabarkan menjalin hubungan dengan sesama artis atau orang tenar lainnya. Konon nikahnya Dian Sastro, dibatasi dan media tidak leluasa untuk meliput. Berita di televisipun hanya sedikit sekali. Entah apa maksud dari sepasang mempelai dan keluarga membatasi proses sakral mereka dari liputan dan indra media. Barangkali peristiwa itu adalah privasi dan mereka berhak memilih dan mengatur untuk tidak diliput. Sudah jamak di negeri ini seorang artis cantik bersuami/berpasangan dengan baik artis lainnya, atau pengusaha kaya nan terkenal. Barangkali ini alamiah karena kelas, atau gaya hidup mereka memang sudah tinggi dan bergengsi. Orang biasa tentu saja akan tidak cukup bisa membiayai kebutuhan dan gaya hidup artis-artis tersebut.

Berikutnya adalah diangkatnya seorang direktur bank terkenal menggantikan menteri keuangan Sri Mulyani. Orang tersebut tidak lain adalah Agus Martowardoyo. Kutipan dari sebuah literature tentang Agus adalah bahwa Agus Dermawan Wintarto Martowardojo (lahir di Amsterdam, Belanda, 24 Januari 1956; umur 54 tahun) adalah seorang bankir Indonesia yang sejak Mei 2005 menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, menggantikan ECW Neloe yang terlibat dugaan kasus korupsi. Sebelumnya Agus Martowardojo bertugas sebagai Direktur Utama Bank Permata selama tiga tahun. Selain di Mandiri dan Permata, ia pernah pula bekerja di Bank of America (1984), Bank Niaga (1986-1994), Bank Bumiputera (Direktur Utama; 1995–1998), Bank Exim (Direktur Utama; 1998) dan BPPN (2002). Martowardojo adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1984.

Pada 19 Mei 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan pengganti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan yang baru. Menteri Keuangan yang baru tersebut adalah Agus Dermawan Wintarto Martowardojo. Ia resmi dilantik Presiden pada 20 Mei 2010, bersama dengan wakilnya, Anny Ratnawati.

Tidak kurang dari Sri Mulyani sendiri berkomentar bahwa Agus merupakan menteri yang tepat dan diterima dunia usaha dan global. Bagaimanapun pengangkatan menteri adalah hak Presiden. Pengangkatan ini menyusul mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan guna menduduki posisinya sebagai managing Direktur di bank Dunia. Sebelumnya setiap hari Sri Mulyani mengisi media dengan kiprahnya sebagai menteri keuangan dalam kaitannya dengan kasus Bank Century. Meski banyak yang mengkritik tidak sedikit pula yang memuji atas prestasi dan kerja kerasnya membangun Institusi Keuangan Nasional. Tidak banyak tokoh wanita yang pintar, professional dan idealis seperti Sri Mulyani. Bahkan sebelum menjadi menkeu Sri Mulyani sempat duduk sebagai petinggi di IMF. Tentu banyak juga wanita lainnya yang berprestasi namun Sri Mulyani terlihat menonjol sejak menduduki kursi menteri yang menjadi sorotan semua kalangan menyusul berbagai kasus perbankan, korupsi, makelar kasus dan kejadian politis lainnya.

Update terakhir dari media adalah Sri Mulyani sempat menangis saat sertijab. Sri Mulyani Indrawati dikabarkan menangis. Air mata mantan menteri keuangan ini akhirnya tak terbendung. Dalam acara serah terima jabatan menkeu, baru-baru ini, Sri Mulyani berulang kali terisak di saat menceritakan suka duka menjadi menkeu. Tangisan menkeu terbaik Asia ini jelas tidak biasa, terlebih dilakukan di hadapan media. Selama ini, Sri Mulyani dikenal sebagai sosok yang kuat, percaya diri, dan penuh integritas. Namun, kali ini air mata Sri Mulyani benar-benar tumpah ketika dirinya kembali mengingat dukungan yang sudah diberikan sejumlah pihak, termasuk keluarga dan media. Sementara itu, Sri Mulyani dalam pekan ini akan berangkat ke Washington DC, Amerika Serikat. Dia bakal menjalankan tugas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Yang terakhir adalah meninggalnya paranormal kondang Mama Lorenz. Paranormal keturunan Belanda ini sering cukup terbuka dalam memaparkan penglihatan bathin-nya di media dan hebatnya sering ramalanya menjadi kenyataan. Pernah almarhumah, yang sudah masuk menjadi muslimah ini, mengatakan bahwa akan terjadi kejadian hebat pada tahun 2013. beliau menjelaskan selalu gagal dan gelap setiap ingin meneropong apa yang akan terjadi di tahun tersebut. Hampir bersamaan tersiar berbagai berita bahwa akan terjadi peristiwa besar atau bahkan kiamat di tahun 2012 mendasarakn pada perhitungan penanggalan suku Maya. Dari pihak akademisi dan ilmiah, tidak kurang juga menjelaskan memang akan terjadi kejadian alam yang cukup hebat di tahun 2012, namun bukan akhir dari dunia ini. Banyak buku diterbitkan membahas dan mengulas seputar kejadian tahun 2012, termasuk penanyangan film yang menggambarkan bencana alam yang terjadi pada waktu nanti.

Apapun yang jelas sebagai umat beragam diyakini bahwa alam ini akan pasti berakhir. Waktunya kapan hanya Sang Pencipta yang Maha Tahu. Dengan keyakinan ini tentu menjadi semacam cambuk bagi semua pihak yang diberi amanah mengelola bumi ini, atau negeri ini. Bahwa semua akan ada akhirnya, sehingga mereka akan tersadar manakala telah menyimpang jauh. Bilamana mereka tidak juga sadar dan kembali ke jalan lurus, tentu akan ada hukuman baginya. Kalaupun hukuman tidak saat ini, pada kehidupan berikutnya mereka akan merasakan. Siapapun yang menanam entah tanaman yang baik atau buruk akan menuai hasil tanamannya.
Read More ..

Wednesday, April 21, 2010

RA Kartini


Pagi tadi ada telepon dari rumah mengabarkan si kecil yang masih di playgroup ngga mau makai kostum Jawa, maunya kostum Sumatera. Kostum itu dipakai dalam rangka peringatan salah satu hari Nasional. Baru ingat kalau hari ini adalah hari Kartini. Padahal di setiap ulangan SD tentu tidak ketinggalan ditanyakan tanggal berapakah hari Kartini.

Semangat Kartini rupanya harus didengungkan lebih keras lagi saat ini. Masih banyak kaum perempuan yang ter-ekploitasi baik oleh keadaan maupun oleh kediktatoran. Belum lupa bagaiman derita TKI di negeri asing yang berjuang mendapat sejumput rejeki, mengadu nasib dengan akibat yang kadang tidak sepadan. Diperkosa, disiksa, dipaksa kerja keras siang malam dan seterusnya adalah berita “Biasa” yang dialami kaum TKI di negeri asing. Meski sering dihibur dengan sebutan pahlawan devisa, pahlawan tenaga kerja dan seterusnya, namun ternyata tidak sedikit yang menjadi korban. Bahkan pulang-pun dengan membawa sedikit rejeki yang dikumpulkan bertahun-tahun sering masih diakali bahkan “diperas” begitu sampai di Bandara, ibarat sudah jatuh dari mulut singa- lepas tertatih-tatih masih jatuh pula dimulut buaya. Sungguh sangat tidak sepadan pengorbanan kaum wanita “pahlawan devisa” tadi guna menyambung penghidupannya.



Sementara di negeri sendiri tidak sedikit perempuan yang dimanfaatkan untuk bekerja di pabrik atau perkebunan yang diupah rendah. Sudah jamak bahwa industri garmen, rokok, perkebunan, elektronik atau industri padat karya lainnya lebih memilih tenaga perempuan karena disamping lebih teliti juga daya tawarnya rendah dan umumnya bersedia diupah ala kadarnya. Mungkin agak beda dengan laki-laki yang tidak nerima begitu saja dengan standard upah tersebut.

Mimpi Kartini adalah bagaimana kaum perempuan bisa duduk dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki. Meski saat ini apa yang sudah dicapai perempuan nasional sudah sangat tinggi dan memang sudah setara dengan laki-laki, namun bukan berarti semangat Kartini sudah surut. Terkadang memang dibutuhkan kepemimpinan kaum perempuan dalam berbagai bidang. Tidak jarang perempuan bisa berlaku lebih tegas, jujur dan tanpa kompromi, ketimbang laki-laki. Sudah banyak perempuan menjadi direktur perusahaan, menjadi eksekutif, menjadi polisi, dokter, birokrat, engineer, peneliti, doctor, professor dan bahkan menjadi Menteri dan Kepala Negara. Entah apa jadinya kaum perempuan tanpa kehadiran Kartini, meski jaman dan alam terus bergulir mungkin kebangkitan perempuan akan sangat terlambat tanpa perannya. Kaum perempuan pantas berterima kasih dan menjunjung tinggi jasa dan kepahlawanan RA Kartini.

Selamat Hari Kartini 21-April, dan Wikipedia sudah memaparkan biografi dari RA Kartini - sang pahlawan emansipasi wanita.

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.


Read More ..

Tuesday, April 06, 2010

Pajak Oh !


Belakangan ini banyak orang disibukan dengan pengisian SPT atau setoran pajak-nya. Kadang serba salah, sudah bayar pajak, dipotong dimuka dan harus membuat laporannya. Apalagi ditambah pemberitaan uang pajak banyak diselewengkan, hmm makin manyun aja. Apa dong yang didapat dengan membayar pajak kalau ternyata ditilep juga. Imbal baliknya tidak jelas kemana. Jalanan tetep macet dan rusak, fasilitas publik hampir tidak ada yang nyaman. Rumah Sakit, Sekolah dan Transportasi juga semakin mahal dengan pelayanan dan kenyamanan yang minim. Lebih kesel dengan iklan di TV “himbauan” menajdi warga yang baik dan pembayar pajak yang patuh. Bayar pajaknya dan awasi penggunaannya, tanpa menyebutkan bagaiman mengawasinya. Akses apa yang disediakan untuk ikut “mengawasi” penggunaan dari pajak tersebut. Kenapa tidak dilaporkan ke public, berapa banyak hasil pengumpulan pajak, diaudit oleh badan audit independent, kalau perlu yang internasional, dijelaskan digunakan untuk ini, itu dan ini. Dengan bukti fisik yang masyarakat bisa melihat, dan seterusnya. Saat ini masyarakat masih buta kemana larinya pajak yang dipotongkan dari gajinya maupun dari asetnya. Padahal pos pajak begitu banyak dan besar jumlahnya. Sebut saja pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor, pajak jual beli, dan seterusnya. Sekedar menghitung mudah, sebuah pemda tingkat II misalnya memiliki sejuta kendaraan roda dua dan dua ratus ribu roda empat. Dari kedua obyek tersebut saja bisa dihitung mudah berapa setidaknya pemda tersebut mendapat pemasukan pajak.

Bukan rahasia lagi dinegeri dengan budaya korup sangat tinggi ini, terlanjur nancep di benak public departemen atau lahan yang basah bagi pegawai pemerintah. Diantara departemen itu- menurut persepsi public- adalah pajak dan bea cukai. Kedua domain ini nampak deras dengan mengalirnya dana dari masyarakat maupun dari pelaku bisnis. Tentu tidak bermaksud men-genalisir seolah semua staf pajak dan bea cukai adalah korup. Banyak juga yang lurus dan jujur, namun tidak sedikit pula yang memanfaatkan peran-nya untuk memperkaya diri. Saat audit pajak atas suatu perusahaan misalnya, umumnya diperoleh banyak temuan dan kurang pajak misalnya. Namanya administrasi dan birokrasi, tentu tidak semua detail lengkap dan sempurna. Temuan atau kekurangan ini umumnya kan harus dibayar, beserta dendanya, dan disetorkan ke Negara. Nah pada tahap ini bila terjadai kerjasama dan saling lirik antar pengusaha dan petugas pajak, bisalah mereka menempuh “win-win” solution. Bisa - tanpa setor dalam jumlah besar, dan laporan beres. Memang tidak sebesar seharusnya, namun ternyata juga tidak disetorkan ke pos yang seharusnya - melainkan diselewengkan.


Makin menipisnya sumber daya alam yang bisa diperoleh Negara untuk membiayai operasional pemerintah menjadikan pos pajak semakin penting posisinya. Pajak menjadi tumpuan oleh pengelola Negara untuk memperoleh pendapatan guna menggaji peeagawainya, membiayai operasional dan mestinya membangun fasilitas umum. Daya saing yang semakin turun dan terjadinya defisit perdagangan ekspor impor semakin memposisikan Negara tergantung atas pajak. Beragam pajak dari jaman Belanda digelar dalam rangka memungut sebagian pendapatan masyarakat atas nama Negara. Celakanya masyarakat semakin bingung dengan imbal balik dan pengelolaan berbagai fasilitas publik. Sekedar menyebutkan satu atau dua contoh saja fasilitas public yang nyaman, saat ini sangat susah. Tidak heran seolah banyak yang menjadi tidak rela harus membayar pajak ini itu. Banyak himbauan, semangat dan boikot untuk tidak membayar pajak. Bila ini terjadi tentu Negara juga yang rugi. Tanpa pajak-pun, beban rakyat terus bertambah banyak. Lapangan pekerjaan yang semakin susah, tingkat upah rendah dan makin tingginya biaya hidup, menempatkan masyarakat katakanlah sebagai sapi perahan belaka. Seolah masyarakat hanya menjadi target dan obyek dari hiruk pikuknya kehidupan bernegara.


Benahi soal pajak dan jadikan semakin transparan, mendesak dilakukan. Ketimbang setiap hari adu mulut, cekcok, berpolitik, maneuver, perang syaraf yang orang capek mendengarnya, mendingan segera benahi pajak memajak ini. Bila perlu libatkan masyarakat dalam unjuk kerja dari proses pajak ini. Mungkin pembayar pajak mendapakan receipt dan laporan dari alokasi pajak setiap tahun misalnya. Sehingga terjadi kontrol atas pajak oleh rakyat. Namun kalau rakyat terus seolah “dobodohi” belaka, jadilah warga yang baik, bayarlah pajak, taatlah pajak, apa kata akhirat dan seterusnya – sementara uang pajaknya raib entah keman, tentunya hal ini sangat mengusik keadilan. Jadi hargailah setiap rupiah pajak dari rakyat artinya cucuran keringat dan amanah luar biasa yang harus dijunjung tinggi.

Read More ..

Thursday, February 25, 2010

Orang Sekitar


Sampai saat ini namanya bahkan belum tahu, ia disebut pak tua, begitu saja. Tinggalnya di kampong sebelah, memiliki beberapa anak dan hidup sangat sederhana. Awalnya pak tua bekerja sambilan membersihkan rumah tetangga. Karena kesibukan maka sekalian minta tolong pak tua membersihkan juga rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempat berteduh. Kata tetangga honornya sebulan 100 ribu – itu jumlah yang setiap bulan diberikan. Namun saat diminta sekalian membersihkan rumah, taman dan halaman pak tua hanya bilang, mohon bisa ditambah lagi honornya dari jumlah tadi. Berapa pak, pak tua jawab, tambah sepuluh ribu lagi, jadi 110 ribu per bulan. Akhirnya jadilah pak tua sebagai tukang kebun Pribadi. Mestinya garapan pak tua dua rumah dan menerima honor 210 ribu per bulan, namun sebulan terakhir tetangga pindah, karena rumahnya dalam proses dijual, jadilah pak tua tinggal membersihkan satu rumah. Maka setriap pagi pak tua datang dan membersihkan semuanya, mulai dari halaman depan, samping, belakang, kamar mandi dan rumah. Sejak hadirnya pak tua semuanya jadi bersih dan rapi, sangat berbeda ketika awal-awal tinggal, rumput tinggi, bunga liar, dan daun-daun berserakan.

Lain lagi, ibu gendong itu jam 7 pagi selalu mampir dan datang. Jamunya mas, beras kencur, kunir atau yang pahit. Ibu itu datang tidak hanya menawarkan jamu, tapi juga memetik daun sirih buat campuran jamunya. Kebetulan rumah tetangga menanam pohon sirih yang lebat daunnya, jadilah ibu gendong mampir tiap pagi meminta daun sirih. Critanya ibu gendong jamu ini berasal dari solo, keluarganya sekalian pindah dan kerja seadanya. Saat ditanya bu, punya hp tidak, kalau nanti pengin pesen jamu. Bu gendong bilang tidak punya, tapi anaknya punya, nanti akan diberikan nomornya. Hanya sampai saat ini lupa terus, dan belum kunjung memberikan nomor hp-nya. Ketika tetangga pindah, dan rumahnya sempet kosong, beberapa hari terakhir ibu gendong jamu tidak menampakan diri. Entah masih jualan atau sedang mudik.

Pak sopir itu berpenampilan rapi dan ramah. Setiap malam dan pagi pasti sudah stand by di seberang rumah. Rumah itu besar sekali, berada di huk, kelihatanya seperti digunakan untuk kantor atau usaha. Setiap hari ada tiga mobil hitam, 2 innova dan 1 picanto. Kadang banyak mobil lainnya dijejer di jalan buntu sebelah rumahnya- barangkali mobil perusahaan. Setiap malam pak sopir mengandangkan semua kendaraanya dengan rapi, menguncinya dan pulang. Rumah besar itu nampak dijaga oleh satu dua pembantu. Setiap paginya pak sopir sudah datang dan mencuci mobil, mengeluarkan dan menyiapkan mobil untuk digunakan. Bila berpapasan pak sopir itu akan tersenyum ramah.

Sementara tukang tahu sumedang yang sering teriak menjajakan tahunya, hanya datang dua kali seminggu. Datangnya setiap pagi dengan tahu yang masih hangat. Tahu tahuuu teriaknya, dengan biasanya kostum kaos, bercelana tanggung dan diiikat sarung. Tahunya enak dan gurih. Bila anda beli 10 ribu maka akan dapat sekantong ukuran sedang, dimakan sendiri ngga bakal habis, karena cukup banyak. Biasanya selebihnya dibawa ke kantor dan rekan kantor yang menghabiskan. Pak jualanya tiap hari apa, tukang tahu bilang antara rabu atau kamis. Oh ya, ntar kalau lewat mampir ya, ia hanya mengangguk. Entah minggu ini kok tidaik jualan, terakhir beli sudah dua minggu kemarin dan sempat ketemu saat jalan memamnggul bakul tahunya di jalan menuju perumahan.

Kalau mbak-mbak itu nampak ngga nyaman disuruh nemenin jalan anjing herder yang besar. Rupanya dari keluarga berpunya, buktinya miara anjing mahal itu tidak hanya satu, kelihatanya ada beberapa. Anjingnya sebesar kambing, dan kebayang biaya makannya berapa, pasti jauh melebihi honor mbaknya. Satu pack makanan anjing harganya berapa, tiga kali makan, maka jatahnya bisa sekian lipat gaji mbaknya. Si kaya pastilah, karena rumahnya besar dan mewah, mobilnya banyak. Pagi tadi mbaknya kesulitan mengajak si anjing belok di persimpangan jalan. Anjing pengin ke kanan, mbaknya membujuk ke kiri, sampai anjingnya duduk. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk barulah anjingnya mau nuruti belok kiri. Badan anjingnya itu lebih besar dari mbaknya, sehingga pastilah mbaknya takut dan hanya bisa membujuk anjing herder yang di angon.

Sekelompok satpam penjaga komplek di depan tidak kalah menarik-nya. Sebulan mondar mandir setiap hari terus ditanya pengin ke blok mana, kok ngga hapal-hapal. Lebih dari sebulan barulah mereka hapal dan langsung buka pintu tanpa menginterogasi lagi Badannya besar dan tampangnya dingin, he he, siap menghardik siapapun yang masuk perumahan elite ini. Critanya ini komplek yang termasuk elit-lah- lha wongharga rumha termurah 700 juta lho, banyak yang milyaran wah wah. Kalau anda hanya mengendari roda dua jangan harap mendapat sambutan satpam. Satpam ini nampak akan hormat kalau anda lewat bermobil, dan apalagi mobilnya keren. He he nampaknya bukan anda yang dihormati tapi mobilnya, itulah satpam komplek.
Read More ..

Monday, February 08, 2010

Night Life


Stasiun mana yang paling menarik, apakah stasiun Gambir, Jatinegara, Gubeng, Tugu, Balapan, Poncol atau Tawang. Saya kok lebih memilih stasiun Tugu yang lebih menarik dan nyaman. Stasiun gambir memang lebih canggih dan bertingkat, ada eskalatornya, namun kok masih lebih eksotis Tugu yaa. Kalau gubeng barangkali biasa saja, seperti halnya Tawang, Poncol dan Balapan. Jatinegara, wah ramai dan sempit. Mau duduk nyaman saja susah. Jarak dengan rel dekat banget, baru nyantai bentar langsung Ngooooong keras banget suara loko hilir mudik. Belum counter makanan dan minuman yang mahalnya minta ampun. Segelas teh harganya 4 ribu rupiah. Aqua sedang juga 4 ribu rupiah, padahal dalam kereta hanya 3 ribu. Tiket masuk peron juga naik drastis dari semula seribu lima ratus menjadi dua ribu lima ratus. Katanya kenaikan tiket peron bakal diikuti digratiskannya toilet, nyatanya di Jatinegara dan Tawang tetap di-charge tuh pengguna toilet.

Keberadaan rel dan kereta api sendiri sudah cukup lama. Hampir semua rel di tanah air konon dibangun oleh Belanda, sementara kita mendapat “warisan” dan menjadikannya sarana kereta api sampai sekarang. Meski booming kereta sudah lama terjadi dan banyak Negara membangun kereta super cepat, sampai 400 km per jam, kita masih setia dengan loko lama, rel warisan dan cukup puas dengan speed 90 km per jam. Kita juga mesti puas dengan masih terdapat jalur kereta tunggal yang mengharuskan langsir atau antrian saat berpapasan. Ini lah yang membuat jarak 450 km harus ditempuh sekitar 8 jam, karena harus langsir saat berpapasan, atau mengalah disalip kereta eksekutif.

Kereta juga menjadi tumpuan mereka yang mengandalkan moda ini dari satu kota ke kaota lainnya. Berbeda dengan moda bus atau pesawat terbang, kereta memiliki berbagai keunggulan seperti daya angkut, aman, nyaman dan murah. Sekelompok orang yang setiap minggu harus bolak balik antar kota sering nge-deal dan membayar tiket di atas gerbang. Artinya kelompok “perantau” ini tidak membeli tiket dan langsung bernegosiasi dengan kondektur kereta. Biasanya rates-nya sekitar 30 ~ 50% dari tiket resmi. Memang ini bukan contoh yang baik sih, namun ketidakmampuan setiap minggu membeli tiket demi susu anak, juga patut dipertimbangkan. Manusiawi, barangkali kondisi ini. Toh jumlah penumpang semi resmi ini tidaklah banyak. Paling dari 10 gerbang kali 60 penumpang- hanya terdapat sekitar 5 sampai 10 penumpang saja yang ber- “nyali” mbayar di atas. Tambahan karena bertahun-tahun, mereka sudah akrab belaka dengan staff kereta, dan nampaknya kelompok kecil ekslusive ini mendapatkan perkecualian dapat rates “berbeda”. Tidak jarang bekal makanan yang dibawa turut dibagai dengan staff kereta, ya jadilah mereka teman atau bahkan keluarga, he he.

-Makan-makan, nasi ayam, nasi telur, aqua, mizone, pisang rebus, tahu, kopi, indomie, - ramai teriakan pedagang saat kereta berhenti di stasiun Cirebon. Itulah kereta bisnis atau senja Utama yang berangkat dari stasiun Senen/Jatinegara. Kereta berhenti di Cirebon, Tegal, Pekalongan dan berakhir di Tawang Semarang. Sesuai aturan dari PT KA, pedagang diperkenankan masuk untuk kereta Bisnis ini. Berbeda dengan eksekutif yang pedagang hanya boleh teriak-teriak dari luar gerbang. Bila anda sekali-kali naik Bisnis, maka tidur anda akan terganggu sebentar oleh teriakan pedagang yang hilir mudik bak peragawati dan peragawan. Ada kejadian, penumpang lapar pengin membeli nasi ayam seharga enam ribu. Lho kok naik, biasanya lima ribu kata penumpang, wah sudah seminggu naiknya sergah pedagang. Maka dibelilah satu bungkus nasi ayam, dan saat dibuka kok isinya hanya nasi tahu, mau protes pedagang sudah terlanjur turun. Hmm entah “salah paket” ini disengaja atau salah ambil bungkus, yang jelas penumpang bersungut-sungut menikmati nasi “ayam” rasa tahu.

Penumpang di bangku 9, bolak balik mencari posisi tidur yang enak. Masih mending bangku kereta bisnis sedikit rebah, berbeda dengan kereta ekonomi seharga 33 ribu yang bangkunya tegak lurus 90 derajat. Dijampin punggung anda akan kaku sesampai di tujuan setelah 8 jam duduk dengan posisi tegak lurus. Bangku kereta bisnis sedikit rebah, dan -gerbang 10 atau gerbang terakhir tempat “penampungan” penumpang semi resmi, malam itu - malah lengang. Satu penumpang menguasai dua bangku sekaligus. Apa daya konfigurasi bangku yang kaku, bikin punggung dan pinggang pegal. Posisi tidurnya, bila berbantal yang disewa tiga ribu rupiah, harus menekuk dengkul ke atas, ke sandaran tangan. Dihentak-hentak sepanjang jalan, pinggang berasa pegal juga mesti tidur nggelosor. Kalau posisi dibalik, maka kaki harus naik ke jendela kereta, jadilah posisi tidur seperti jurus kungfu. Namun itulah posisi yang optimal, ketimbang saat gerbang penuh harus tidur di bawah, di bordes atau paling banter di restorasi, tidur di meja makan.

Yang nyaman tentu anda naik eksekutif dengan membayar 230 ribu, mendapat gerbang ber AC, dan bangku nyaman plus bantal dan selimut. Ruang gerbang lumayan wangi dan plus nonstop TV plasma. Bangku bisa disetel sangat rebah dan anda bisa selonjor ke pijakan kaki di depan, jadilah perjalanan menjadi nyaman. Ya wajar lah, anda harus merogoh kocek dalam-dalam untuk kenyamanan tadi. Meski kereta ini tidak kebal “langsir” juga, jadi ada kalanya harus berhenti menunggu antrian lewat.

Eksistensi kereta ini diyakini membantu banyak lapisan masyarakat untuk bertahan hidup, menjadi pedagang, penjaja koran, penjaja makanan/minuman, dan penumpang setiap harinya. Terlampau banyak mereka yang mengandalkan dan bersandar kepada moda angkutan yang satu ini. Pun harapan dari para pengguna moda transportasi tidaklah muluk, - tingkatkan kenyamanan dan keamanan kereta. Jangankan di kelas ekonomi yang penumpang berjejal dan duduk sampai bordes dan depan toilet, di kelas bisnis pun masih banyak- seringnya- yang terdampar di bordes, karena daya tampungnya terbatas. Andaikan nanti kereta bisa lebih nyaman, harga tetap terjangkau, jalur ganda di semua rute, modernisasi rel dan loko, maka alangkah nyata kinerja dari PT KA ini. Entah kapan harapan itu bisa terjawab. Eitt jangan ditutup dulu artikelnya- kata penumpang belakang, seorang anggota TNI, gue pengin bilang nih, real man life – night train, black drink and hard music, he he boleh juga tuh pak,,,
Read More ..

Thursday, February 04, 2010

Jawa

Ada apa dengan Jawa. Orang jawa, sebenarnya sama dengan puluhan atau ratusan suku yang ada di tanah air. Orang jawa ini, kebetulan jumlahnya paling banyak diantara suku lainnya. Saking banyaknya hampir tidak ada tempat di tanah air yang tidak ada orang jawanya. Semisal di sony, sebuah pabrik elektronik yang berlokasi di Bekasi, terdapat gambaran ini- betapa banyaknya orang jawa. Dalam meeting antara karyawan lokal dengan orang jepang tentu menggunakan bahasa inggris. Namun manakala berbincang sesama, dalam ruang yang sama, yang jepang menggunakan bahasa jepang, sementara yang local menggunakan bahasa jawa, bukan bahasa Indonesia. Mungkin ini kebetulan banyak orang jawa di pabrik tersebut. Jadi dalam meeting tersebut sering muncul guyonan Japanese versus jawanese.

Bahasa jawa ini biasanya digunakan oleh mereka yang tinggal di Jawa timur dan Jawa tengah. Sementara di jawa barat digunakan bahasa sunda dan bahasa Indonesia. Barangkali saat ini pengguna bahasa sunda dan Indonesia di Jabar hampir seimbang. Berbeda dengan bahasa Jawa, dimana bertemu mereka sering menggunakan bahasa Jawa ini. Bahasa jawa ini juga kaya, unik dan cukup sulit dipelajari. Bila dibandingkan bahasa Inggris, konon bahasa Jawa jauh lebih sulit. Jenis bahasa Jawa diantaranya kromo inggil, kromo dan ngoko. Ada juga jawa kuno. Selain Melayu, Kanji, Rusia, Arab bahasa Jawa juga memiliki huruf tersendiri. Biasanya disebut juga dengan Honocoroko.

Dari ranah Jawa ini juga kaya dengan ragam kebudayaan dan peninggalan bersejarah. Mulai dari tarian, sastra, wayang kulit, ludruk, kethoprak, istana, candi, arca dan masih banyak budaya lainnya. Tidak ketinggalan pula berbagai tembang jawa turut memperkaya.

Saking kaya ragam budayanya banyak orang tertarik mempelajari berbagai budaya Jawa ini. Bahkan banyak dari mereka merupakan warga asing yang belajar menari, wayang, tembang maupun budaya lainnya. Borobudur, Prambanan, Kraton Solo, Kraton Jogya adalah peninggalan budaya yang terletak di pulau Jawa. Dari fisik peninggalan tersebut diyakini bahwa nenek moyang berasala dari masyarakat yang sudah maju. Buktinya mereka bisa menghasilkan karya besar yang diakui oleh dunia.

Meski penutur bahasa Jawa kadang berbeda, namun bahasa ini paling luas digunakan hingga saat ini. Logat jawa Solo berbeda dengan logat Banyumas atau logat Surabaya. Bahkan dari logat bicara akan bisa ketahuan darimana orang itu berasal.

Sejak jaman penjajahan, kebetulan banyak pembangunan fisik dilakukan di pulau Jawa, sehingga secara nasional di pualu Jawalah yang memiliki prasarana dan infrastruktur paling lengkap. Terdapat banyak jalan tol, rel kereta api, bendungan, jembatan, perkotaan yang tersebar luas di pulau ini. Ketimbang pulau lainnya prasarana pulau Jawa dianggap paling lengkap. Hal ini yang kadang mendorong dilakukannya pembangunan secara merata tidak hanya di Jawa namun juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan sebagainya.

Dari budaya timbul dan mendorong ramainya dunia pariwisata. Terdapat barangkali puluhan atau ratusan tempat pariwisata di pulau Jawa. Baik itu yang dikelola dengan rapi maupun yang terlantar apa adanya. Beragam candi, bendungan, bangunan, situs banyak ditemukan di Jawa. Bahkan yang terakhir berdiri dengan megahnya jembatan terpanjang di tanah air yakni Suramadu, yang menghubungkan Jawa dan Madura.

Umumnya keindahan alam, orang akan menunjuk Bali atau Padang. Namun di pulau Jawa ternyata tidak kalah banyak tempat yang sangat indah. Selain kaya akan gunung, bukit, dataran tinggi-rendah, juga banyak pantai yang bagus di Jawa. Sebutlah gunung Bromo, Lawu, Merapi-Merbabu, Sindoro-Sumbing maupun lainnya. Sebutlah pantai parangtritis dan pantai sepanjang selatan pulau Jawa. Berbagai lokasi tersebut akan menyuguhkan pemandangan yang exotis dan jarang dijumpai di tempat lainnya. Meski tentu saja banyak tempat indah di pulau lainnya.

Bicara ragam kelebihan Jawa akan terdengar naïf, manakala pulau lainnya justru mengalami kekurangan prasarana. Sebagai satu tanah air, tentunya terpisahnya antar pulau menjadi hambatan besar bagi berlangsungnya kehidupan social dan ekonomi. Kebutuhan pulau lainnya akan komoditas dari Jawa mesti dikirimkan melalui laut atau udara yang membutuhkan waktu dan biaya yang mahal. Juga sebaliknya komoditas unggulan dari luar Jawa yang dibutuhkan mengalami mahalnya biaya distribusi ini. Andaikan semua pula sudah tersambung jalan darat tentu bakal mendorong kencangnya roda ekonomi.

Barangkali jembatan Suramadu menjadi semacam langkah awal tersambungnya akses Jawa Madura. Entah apakah Jawa Sumatera bisa teruwujud sambungan akses dengan mega rencana membangun Jembatan di Selat Sunda. Barangkali ini PR besar yang mungkin untuk dilakukan. Penyambungan akses dengan pulau lainnya nampakanya akan cukup sulit terwujud mengingat besarnya hambatan jarak di atas lautan. Yang lebih mungkin adalah menggenjot pembangunan fisik dan sarana di semua pulau seperti Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Ini lah pekerjaan besar yang bisa dilakukan seluas-luasnya. Jadi sungguh memprihatinkan bila kiprah pembangunan seolah berjalan di tempat. Semisal perawatan jalan pantura pulau Jawa yang dari waktu ke waktu tidak pernah tuntas. Habis ditembel, rusak, ditembel lagi rusak lagi, dan seterusnya sungguh menguras energi, waktu dan biaya dan menghambat kesempatan pembangunan pulau lainnya mendapat giliran.
Read More ..

Thursday, January 28, 2010

Program 100 hari Dan Demo Mahasiswa


Di bawah adalah kutipan 19 program ekonomi yang sudah dicanangkan. Bila melihat ke-19 program tersebut nampak sudah mencakup bidang yang kritis dan menyangkut kepentingan rakyat bawah. UKM, pertanian, perikanan dan ketenagakerjaan jelas tercantum dalam program Utama ekonomi tersebut. Hanya selalu masalahnya adalah pada implementasinya, sejauh mana, apakah sudah optimal, apakah sudah dikerahkan sumberdaya untuk mencapai target.------------

VIVAnews - Jumat malam, 13 November 2009, Hatta Rajasa yang belum genap sebulan dilantik Presiden sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan Program 100 Hari. Bertempat di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Hatta menyatakan 19 program ekonomi akan menjadi prioritas kerjanya di 100 hari pertama.

Program 1: Ketersediaan Lahan dan Keterpaduan Tata Ruang
Program 2: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur
Program 3: Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur Strategis
Program 4: Pengadaan lahan bagi pertanian, perkebunan, dan perikanan
Program 5: Iklim Investasi Pertanian dan Perikanan.
Program 6: Kesinambungan Swasembada Pangan
Program 7: Jaminan Pasokan Energi
Program 8: Sistem Harga Energi yang Kompetitif
Program 9: Ketahanan Energi
Program 10: Pengalihan Sistem Subsidi: BBM, pupuk dan listrik
Program 11: Pengembangan Energi Terbarukan Nasional
Program 12 : Revitalisasi KUR
Program 13: Pengembangan UKM
Program 14: Ketenagakerjaan
Program 15 : Kelancaran Arus Barang dan Daya Saing
Program 16: Revitalisasi Industri Pupuk dan Gula
Program 17: Pengembangan Klaster Industri Berbasis SDA fosil dan yang Terbarukan
Program 18: Aksesibilitas dan Keterhubungan Antarwilayah
Program 19: Keselamatan Transportasi --------------

Sambil barangkali menunggu pembuktian pemerintah bagaimana kiranya rakyat bisa mengukur sejauh mana hasilnya saat ini. Parameter yang langsung menyentuh kehidupan rakyat mungkin bisa dijadikan acuan.

Yang pertama adalah pangan, sudahkan semuanya tercukupi kebutuhan pangan ini. Bagaimana ketersedian dan harganya apakah cukup terjangkau atau semakin mahal barangkali untuk pangan, sebagian besar lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. Tentu masih ada yang menghadapi kesulitan pangan ini setiap harinya. Sebuah sumber menyatakan terdapat 10 juta pengangguran. Sebuah parameter menjelaskan masyarakat dengan kemampuan belanja $2 perhari dianggap tidak miskin.

Yang kedua adalah sandang, barangkali hampir seperti pangan tadi, keduanya bisa diupayakan oleh sebagian besar lapisan masyarakat. Sebenarnya kedua factor ini adalah hal yang sangat basic bila melihat limpahan sumber daya alam yang konon gemah ripah loh jinawi, subur, tertib tenteram toto rahardjo.

Kebutuhan primer ketiga adalah papan, dan ini rasanya masih menjadi cukup beban banyak masyarakat terutama di kota besar mengingat harga property yang terus membubung. Bila dibandingkan dengan tingkat pendapatan masyarakat harga property cenderung naik lebih cepat, sehingga semakin banyak masyarakat yang berkurang daya belinya.

Biaya transportasi mestinya masuk kebutuhan tertier, namun saat ini sudah bergeser menjadi kebutuhan primer, karena tanpa belanja transportasi masyarakat tidak bisa bekerja. Bagi mereka dengan pendapatan marginal, persentase tarnsportasi ini bahkan menggerus 30 sampai 40% pendapatannya. Mungkin bagi yang berpendapatan menengah dan atas beban transportasi berkisar 5 sampai 20% dari pendapatannya.

Pendidikan dan kesehatan, meski umumnya masuk kebutuhan tambahan, namun saat ini menjadi hampir kebutuhan dasar. Keduanya jelas belum bisa dinikmati secara menyeluruh oleh masyarakat manakala biaya kedua pos tersebut semakin mahal. Tidak banyak masyarakat yang bisa menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah dan berobat di Rumah Sakit yang lengkap prasarananya. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kesempatan kerja dan akses atas sumber daya atau aset nasional, hendaklah terbuka sama lebar bagi seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali.

Dengan sekian banyak ragam kekurangan, secara bijak hendaklah tidak menutup mata bahwa saat ini harga BBM relative stabil, situasi keamanan juga relative kondusif bagi investor dan pekerja. Memang terdapat masalah bidang hukum dan politik, namun hendaklah dilihat luasnya cakupan dan tanggung jawab pemerintah. Namun demo mahasiswa yang rencananya digelar hari ini secara besar-besaran juga merupakan ungkapan dan gambaran dari keprihatinan masyarakat luas. Demo tersebut hendaklah jangan dianggap ringan atau lagi-lagi menuduh ditunggangi dan seterusnya namun harus dilihat sebagai reminder dan shock therapy. Harus dilihat sebagai warning bahwa rakyat – melalui mahasiswa- tidak main-main lagi sekarang dimana pemerintah harus mempertaruhkan kredibilitas dan integritasnya untuk mensejahterakan rakyat.
Read More ..

Friday, January 22, 2010

Kemacetan


Tahun 2014 diperkirakan Jakarta stuck, macet dan kendaraan tidak bisa lewat. Kemacetan sangat parah bahkan jalan di depan perumahanpun akan macet. Namun melihat situasi saat ini bisa jadi kemacetan parah itu bakal datang lebih cepat, barangkali tahun 2012 jalanan pada jam sibuk- sudah tidak bisa dilalui. Kemacetan adalah masalah klasik ibukota itu selama bertahun-tahun. Saking parahnya, orang akan heran kalau jalanan lancar. Para ahli sudah banyak yang memberikan analisisnya kenapa macet dan solusi apa yang mesti dilakukan untuk mengurai dan mengurangi kemacetan. Alasan kemacetan sangat kompleks, dimulai dari pelanggaran atas tata ruang kota, perilaku pengendara, kaki lima, ulah ngetem angkutan umum, kurangnya flyover/underpass di banyak perempatan serta minimnya moda mass rapid transport.

Pemerintah sudah mencoba mengatasi kemacetan dengan membangun fly over/underpass, ring road, jalan tol, three in one dan yang terakhir adalah membangun busway. Namun dalam waktu singkat kembali kemacetan parah datang mendera. Pembangunan monorail yang sempat dimulai berhenti dengan alasan tidak adanya anggaran dan seterusnya. Akhirnya masyarakat pasrah dan menikmati saja menu kemacetan yang datang setiap hari. Saking terjadi keseharian, orang kantoran juga sudah nge-set bahwa jarak tempuh ke kantornya sekian jam, termasuk kalau pengin ke bandara, lamanya macet sudah otomatis masuk hitungan.

Di Singapura yang Negara atau kotanya membentang hanya sekitar 40 kali 50-an km, memiliki beragam angkutan nyaman termasuk mass rapidnya – MRT – berupa kereta subway. Konon pembangunan infrastruktur ini sudah dimulai sekitar 30 tahun lalu, artinya membangun system transportasi kota metropolitan tidak bisa instant saat ini. Harus dimulai jauh-jauh hari. MRT di Singapura menjangkau hampir semua sudut kota dengan elapse kedatangan kereta dalam hitungan menit, bisa hanya 3 atau 5 menit kereta datang dan pergi. Memang penduduk negeri singa itu hanya 4 atau 5 juta saja, namun moda transportasi sudah tertata rapi sejak awal ketimbang factor jumlah pengguna jalan.

Jakarta memang jauh lebih luas dan penduduknya jauh lebih banyak. Pun moda transportasinya jauh lebih parah, sehingga kemacetan hanayalah akibat alamiah dari berbagai kondisi tadi. Konon pernah ada rencana membangun subway, namun kontraktor urung melanjutkan karena tata kotanya sudah parah dan barangkali bawah tanahnya tidak memungkinkan digali untuk jalur subway. Belum lagi-lagi masalah ketiadaan anggaran. Terkadang cukup heran kenapa selalu anggaran tidak ada, padahal pemerintahlah yang mengurus semua keuangan yang berasal dari berbagai sumber daya, pajak, cukai, eksport dan lainnya.

Jika jumlah kendaraan dituding sebagai penyebab kemacetan nampaknya kurang sepenuhnya benar. Bagaimanapun kendaraan dibutuhkan oleh masyarakat dan industri. Sejauh moda transportasinya terintegrasi dengan baik jumlah kendaraan tetap akan bisa lancar mengalir. Apalagi jumlah kendaraan kita tidak lebih banyak dari yang ada di Negara tetangga.

Beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan barangkali memindahkan ibukota Negara, ke tempat yang sudah dipersiapan sarananya dengan baik. Memang ini ekstrem, butuh waktu lama dan biaya sangat besar, namun perubahan mesti dilakukan. Kemungkinan lainnya membangun jaringan transportasi terpadu antara Jakarta dan kota penyangganya, seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor. Memang sudah ada moda busway dan feedernya, namun belum bisa mengatasi kemacetan, dan belum mengakomodir jumlah pengguna jalan.

Pemerintah harus membangun moda transportasi massal semacam monorail, kereta trem, sebagaimana di Amerika atau membangun jalur kereta lebih banyak lagi. Monorail dan moda ini akan menghubungkan semua sudut kota termasuk ke pinggiran dan kota penyangga. Anggaran harus diadakan mengingat makin ke depan kondisi fisik sudah semakin parah dan kemacetan akan tidak tertolong. Jangan sampai rencana regulasi instant semacam pembatasan tahun kendaraan, penomoran ganjil dan genap diterapkan. Hal ini akan mengusik rasa keadilan masyarakat luas.

Monorail memiliki keuntungan dengan daya angkut yang besar namun tidak mengurangi volume jalan, karena dibangun di atas jalan. Sementara kereta trem juga memiliki daya angkut besar tanpa mengurangi jalan yang bisa dilewati kendaraan lain. Kereta juga terbukti menjadi tumpuan pengguna jalan, hanya kenyamanan dan jumlahnya perlu ditingkatkan. Peraturan yang tegas juga bisa diterapkan bagi pengguna jalan seenaknya, asal serobot, ngga mau antri, kaki lima, kendaraan roda dua, angkot, metro mini dan kendaraan lainnya. Bila perlu pelanggar rambu lalu lintas dicabut SIM-nya.Kenapa, karena kondisi saat ini sudah sangat rawan dan kritis. Bila pelanggar rambu dibiarkan maka akan sangat mengganggu kelancaran berkendara. Guna mengerem si kaya memiliki lebih banyak kendaran, pajak progressive juga bisa diberlakukan.
Read More ..